Hukum Bersalawat dengan Lafal yang Tidak Diajarkan Nabi

Salawat kepada Nabi Muhammad Saw adalah salah satu bentuk eksperisi cinta kepadanya. Di Indonesia, kita sering mendengar salawat ini dengan segala variasi lafalnya didendangkan oleh Grup Rabana atau Grup Nasyid, dan sejenisnya, yang kadangkala juga sengaja diperdengarkan oleh pengurus Masjid di corong-corong Masjid sebagai penanda akan dimulainya suatu pengajian.

Salawat ini, jikalau dibawakan dengan suara yang merdu dan irama yang mendayu, ditambah dengan lafal-lafal yang menyayat hati, membuat kita bermenung dan merenungkan diri, seolah-olah kita ini belum ada apa-apanya terhadap sosok yang menjadi wasilah hidayah kita; Nabi Muhammad Saw.

Hanya saja, buntut semua ini akan muncul sebuah masalah; bagaiman hukumnya bersalawat dengan lafal-lafal yang tidak diajarkan Nabi Muhammad Saw, yang tidak terdapat dalam sunnahnya, yang tidak diriwayatkan dalam haditsnya?

Tidak jarang ada beberapa anak muda, dan saya sendiri juga masih anak ya (ngaku-ngaku ^_^) yang menyatakannya sebagai sesuatu yang haram. Tentu saja ini mengundang reaksi yang keras dari masyarakat yang sudah terbiasa mendengarkannya. “Baru lahir kemare, Kau. Sudah berani-berani pula menbid’ahkan sesuatu yang sudah biasa kami lakukan.”


Kita paham saja, mengubah sesuatu yang menjadi kebiasaan bukanlah sesuatu yang mudah. Ibarat kata Imam Malik: Naql al-Nâs ‘ammâ Hum ‘alaih Syadîd wa Syaq (memindahkan manusia dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan mereka adalah susah dan sulit).

Tapi apakah benar haram?

Oke begini jawabannya. Jikalau ada yang menyatakan Salawat dengan lafal yang tidak diajarkan Nabi Muhammad Saw itu adalah sesuatu yang terlarang atau bid’ah, maka itu sesuatu yang tidak terlalu tergesa-gesa, terlalu cepat menilai tanpa melihat lebih dalam masalahnya.

Kemudian, menyatakan semua Salawat dengan lafal diajarkan Nabi Muhammad Saw itu boleh-boleh saja secara mutlak, juga merupakan pendapat yang terlalu mempermudah-mudah urusan agama, seolah-olah berbicara hanya pakai “perutnya” saja. Eh.. hawa nafsunya.

Kita harus adil melihat masalah ini. Secara umum, kita bisa membaginya menjadi dua bagian, yaitu Salawat yang Lafalnya berasal dari Nabi Muhammad Saw, dan Salawat yang lafalnya berasal dari selain Nabi Muhammad Saw; dari ulama.

Jikalau Salawat jenis pertama, maka tidak ada yang meragui masalah kebolehannya. Bahkan, kita setiap kali mengerjakan shalat, bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sedangkan untuk yang kedua, yang lafalnya tidak berasal dari Nabi Muhammad Saw, maka harus diperhatikan lafalnya.

Jikalau lafalnya mengandung sesuatu yang bertentangan dengan syariat, seperti melebay-lebaykan posisi Nabi Muhammad Saw, dengan menyifatinya dengan sifat-sifat yang hanya layak untuk Allah SWT, maka Salawat jenis ini haram. Namun jikalau lafalnya sesuai dengan yang diajarkan Syariah, tidak bertentangan dengan Syariah, maka Salawat jenis ini sah-sah saja.

Imam Syafii sendiri dalam Kitabnya al-Risâlah juga memuat Salawat yang tidak diajarkan Nabi Muhammad Saw, yaitu Kullamâ Dzakaraka al-Dzâkirûn wa Ghafala ‘an Dzikrika al-Ghâfilûn (setiap kali para pezikir mengingat-Mu, dan kaum yang lalai itu lalai mengingat-Mu).

Artinya, jikalau sekelas Imam Syafii saja melakukannya, maka bagaimana dengan kita yang datang belakangan? Jikalau Imam Syafii saja termasuk generasi salaf; generasi terbaik umat ini, maka bagaimana dengan kita yang genarasi khalaf; generasi yang datang belakangan?

Hanya saja, sekali lagi, hanya saja, Salawat yang paling terbaik dan paling afdhal tetaplah dengan lafal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam Sunnahnya. Jikalau mau yang lainnya, yang lafalnya berasal dari para Ulama, silahkan saja. Asalkan, perhatikan syarat-syaratnya dengan baik.

Imam al-Suyuthi memiliki cerita menarik mengenai hal ini. Ia menjelaskan bahwa suatu hari ia membaca Kitab al-Thabaqât karangan Syeikh Taqiyuddin al-Subky yang mengukil dari bapaknya suatu pernyataan:
“Sebaik-baik lafal bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw adalah lafal yang dibaca dalam Tasyahhud. Siapa yang melakukannya dengan cara seperti itu, maka ia sudah bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw dengan yakin. Siapa yang melakukannya dengan lafal yang lain, maka ia bersalawat dengan Syakk (ragu). Sebab, para sahabat bertanya kepada Nabi Saw mengenai masalah ini, dan beliau mengatakan ketika itu: ‘Ucapkanlah... (salawat yang diajarkannya).”

Kemudian Imam al-Suyuthy menceritakan kisah pribadinya. Taktala ia masih muda, jikalau ia bersalawat kepada Nabi Saw, maka lafal yang digunakanya adalah lafal ini:
اللهم صل وبارك وسلم على محمد وعلى آل محمد كما صليت وباركت وسلمت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد
Kemudian ia bermimpi, ada yang mengatakan kepadanya dalam mimpinya itu:
“Apakah kamu lebih fasi dan lebih paham makna dari Nabi Saw? Jikalau tidak ada kelebihannya, maka Nabi Saw tidak akan mengutamakan lafal yang diajarkannya.”
Kemudian ia memohon ampunan Allah SWT dan bersalawat hanya dengan lafal-lafal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Nah, mudah-mudahan catatan singkat ini memberikan sedikit pengetahuan bagi sahabat-sahabat yang sudah mau singgah di Blog ini. Jikalau ada soal dan pertanyaan, silahkan dilayangkan di ruang yang sudah disediakan.[]


Baca Juga:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar