Hukum Menyentuh Mushaf al-Quran Tanpa Berwudhu’

“Maaf Ustadz, sebenarnya kita boleh ga sih pegang Mushaf dalam kondisi tidak suci atau tidak berwudhu sama sekali?”

Begitulah pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya sendiri dalam sebuah Majelis para ibu-ibu. Dan pertanyaan yang satu ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh Umat Islam, baik Muslimin maupun Muslimat. Jikalau Muslimah, biasanya terkait dengan kondisi bulan mereka alias Haidh.

Masalah ini memang menarik untuk dikaji dan memang seharusnya diketahui. Jangan sampai kita niatnya ibadah malah tidak mendapatkan apa-apa; niatnya memperbanyak pahala malah bisa jadi dosa.

Membaca al-Quran adalah amalan mulia. Ia adalah kumpulan dari wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui Jibril. Membacanya sudah pasti ibadah. Pahalanya berlipat-lipat. Dalam berbagai riwayat dijelaskan, satu huruf setara dengan sepuluh pahala. Bayangkan saja jikalau sehari kita bisa membaca satu juz.


Luar Biasa..

Oke, kita kembali ke inti pembahasan, yaitu masalah memegang Mushaf dalam kondisi tidak berwudhu.

Jikalau kita dalam kondisi berhadats kecil, maka kebolehan membaca al-Quran adalah sesuatu yang Ijma’ dalam pandangan para Ulama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Nawawi. Afdhalnya, tetaplah dalam kondisi suci atau berwudhu.

Masalahnya yang muncul setelah itu, bagaimana hukum menyentuhnya? Kita berhadats atau tidak dalam kondisi berwudhu, boleh tidak?

Dalam pandangan Jumhur Ulama, yang mencakup Imam 4 Mazhab dan sejumlah ulama lainnya bahwa hukumnya adalah Haram. Arti nya, jikalau kita tidak dalam keadaan berwudhu atau suci, maka tidak boleh memegang Mushaf.

Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.” (Surat al-Wâqi’ah: 77-80)

Imam al-Nawâwi menjelaskan bahwa adanya lafal Tanzîl dalam ayat di atas adalah pembuktian bahwa yang dimaksud itu adalah Mushaf, sekaligus sebagai bantahan terhadap sebigian yang berpandangan bahwa yang dimaksud di atas adalah para Malaikat di Lauh Mahfudz.

Kemudian ada juga surat Nabi Muhammad Saw kepada Amru bin Hizâm, yang di antaranya memuat kata-kata:
أن لا يمس القرآن إلا طاهر
"Tidak menyentuk al-Quran kecuali orang yang suci."

Kemudian Ibn Taimiyah mengomentarinya dengan mengutip ucapan Imam Ahmad:
“Tidak diragui bahwa Nabi Saw menetapkan hal itu kepadanya. Dan ini juga merupakan pendapat Salmân al-Fârisi, Abdullah bin Umar dan selain keduanya. Dan tidak ada yang menyelisihi keduanya dari kalangan sahabat.”

Imam al-Nawâwi juga mengatakan dalam Kitabnya al-Majmû’ Syarh al-Muhazzab:
“Para sahabat kami berdalil dengan hadits di atas. Dan ia juga pendapat Ali, Saad bin Abi Waqqash, dan Ibn Umar. Tidak ada seorang sahabat pun yang menyelisihinya.”

Artinya, jikalau Anda belum berwudhu, maka tidak diperbolehkan memegang Mushaf atau membawanya, baik untuk menghafal, membaca atau mempelajari. Hanya saja, ia tetap boleh membacanya asalkan tidak menyentuhnya.

Catatan disini, pandangan ini dikecualikan dari anak-anak kecil ketika mereka belajar al-Quran karena sifatnya darurat. Thaharah mereka itu tidak mungkin terjaga, padahal mereka harus belajar al-Quran. Hal yang sama juga berlaku jikalau kita bawa barang, yang didalamnya ada Mushaf. Walaupun kita tidak dalam kondisi berwudhu, maka itu tidak masalah. Sebab yang dibawa adalah barangnya, dan Mushaf hanyalah bagiannya.

Nah jelash ya, mudah-mudahan catatan singkat ini bermanfaat bagi kita semua. []


Baca Juga:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar