Hukum Istimna' (On4ni/ M4sturb4si)

(Pahami dulu, On4n1 atau M4sturb4s1 itu, dalam tulisan ini kita gunakan bahasa penggati, yaitu Istimna’. Ingat ya, bahasa yang kita gunakan adalah Istimna’.)

Usia muda adalah usia yang penuh dengan gejolak. Jikalau dalam bahasa seorang guru saya dahulu ketika masih kuliah di Jakarta, “Anak muda itu yang dipikirkan sebagian besarnya hanyalah perut dan apa yang ada di bawah perut.”

Semua yang ada dalam diri anak muda itu memang penuh gejolak; pikiran dan syahwat. Apalagi yang masih jomblo. Pikirannya melayang kemana-mana. Ingin menikah, tapi calon belum ada. Ingin menikah, tapi dana belum mengizinkan. Akhirnya, syahwat pun ikut dalam aliran pikiran, kemudian disusupi oleh setan. Mulai gerakan-gerakan memuaskan nafsu sendiri, meyaksikan hal-hal yang terlarang dalam agama, film-film yang merusak iman dan pikiran, kemudian berujung dengan Istimna’.

Kecil kemungkinannya anak muda selamat dari yang satu ini. Kecil sekali. Begitu kata sejumlah ulama. Jikalaupun ada yang selamat, maka itulah benar-benar yag dipilih oleh Allah SWT.

Dalam Islam, Istimna’ itu bukanlah solusi dari gejolak syahwat. Jikalau itu solusinya, sudah lama diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kita bisa membaca itu dengan jelas dalam sabdanya:
“Wahai sekalian pemuda, siapa yang mampu di antara kalian menikah, maka menikahkah. Sebab, ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Jikalau tidak mampu, maka berpuasalah. Sebab, ia adalah tameng.” (Hr al-Bukhari)


Apa solusi yang Anda dapati dalam hadits di atas?
Istimna’? Bukan ya…
Solusinya adalah menikah. Jikalau tidak mampu, ya puasa.

Istimna’ ini bukan saja terlarang dalam agama, namun juga akan memudharatkan diri Anda. Sisi kesehatan, misalnya. Jikalau Anda terbiasa melakukan hal ini, maka bisa jadi nanti Anda akan terkena impotensi; tidak bisa mendapatkan keturunan. Padahal, memiliki keturunan adalah naluri dan fitrah anak manusia. Sisi psikologi, Anda akan terus dilanda rasa bersalah, galau, dan gelisah.

Jikalau sudah kecanduan dengan penyakit yang satu ini, maka Anda akan sulit berlepas dari diri. Bahkan, setelah Anda menikah. Berapa banyak yang setelah menikah dan memiliki anak tetap melakukannya, kemudian menyebabkan hubungan yang tidak harmonis, yang akhirnya berujung perceraian. Kita berlindung kepada Allah SWT.

Para gadis yang terbiasa melakukannya, juga akan menyebabkan tersobeknya selaput keperawanannnya. Kemudian setelah ia menikah, ia bisa jadi tidak akan merasakan “rasa” apapun lagi, sebagaimana dirasakan oleh para gadis yang mampu menjaga dirinya dengan baik sebelum menikah.

Syeikh Musthafa al-Zarqa; salah seorang Ulama Syafii asal Syiria menjelaskan:
“Sesuatu yang dilarang menurut kedokteran, maka ia terlarang dalam syariat sesuai dengan kesepakatan para ulama.”

Sahabat Pembaca…

Ada baiknya jikalau Anda sedikit merenungi ucapan dari Syeikh Husnain Makhluf dalam Majalah al-Azhar, jilid 3, halaman 91, Bulan Muharram 1391 H, yang menjelaskan bahwa Jumhur Ulam amengharamkan Istimna’, kemudian memberikan sejumlah solusi untuk membebaskan diri darinya:

Pertama, Segera menikah. Tidak usah mahal dan berlebihan. Sederhana saja.
Kedua, Makan dan minum jangan berlebihan agar syahwat juga tidak besar.
Ketiga, Menghindari semua yang memancing syahwat, seperti menonton film yang tidak layak dan sejenisnya.
Keempat, Mengarahkan energy untuk hal-hal yang postif.
Kelima, Memilih teman-tema yang baik, yang akan membantu Anda untuk Istiqamah beragama.
Keenam, Ikut dala kegiatan social agar tidak kebanyakan berkhayal syahwat.
Ketujuh, Tidak larut dalam kemewahan yang justru akan membuat Anda berpikir yang macam-macam.
Kedelapan, Jangan tidur di kasur yang justru akan membuat Anda berpikir yang tidak-tidak.
Kesembilan, Hindari pergaulan yang justru membuat syahwat Anda kadang panas kadang dingin.

Mazhab Para Ulama Fikih Dalam Masalah Istimna’

Jumhur ulama berpandangan bahwa Istimna’ adalah sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Itu merupakan sebuah kesepakatan dalam Mazhab Maliki, Syafii, Hanbali, dan Hanafi.

Dalam Mazhab Hanafi, itu merupakan hukum asal, dan boleh dilakukan dalam tiga kondisi:
@ Laki-laki yang melakukannya sudah menikah.
@ Jikalau ia tidak ber-Istimna’, maka ia akan berzina
@ Tujuannya bukanlah untuk mendapatkan kenikmatan, tapi untuk mematahkan atau memadamkan gejolaj syahwatnya.

Intinya, jikalau dalam kondisi normal, maka hukumnya haram. Jangan dilakukan. Namun, jikalau dalam kondisi darurat, yag jikalau tidak dilakukan, maka bisa menyebabkan zina, maka silahkan saja. Namun ingat syarat di atas. Kaedah adalah mengambil mudharat yang paling ringan (Akhaf al-Dharuraian).

Bahkan dalam Mazhab Hanbali, jikalau sengaja melakukannya dan menikmati, bukan karena darurat, maka dihukum Ta’zir, yang hukumnya dikembalikan kepada hakim, yang tujuannya adalah memberikan efek jera kepada si pelaku. Misalnya, diasingkan atau denda atau apa gitu. Tersesah hakim saja.

Jalan akhirnya,  jalan terbaiknya, jikalau Anda tidak mampu menikah, maka banyak-banyaklah berpuasa. Istimna’ bukanlah jalan keluar. Itu penyimpangan. []


Baca Juga:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar