Melek Literasi & Ujaran Kebencian

8 September adalah Hari yang diperingati secara Internasional sebagai Hari Aksara. Dan Jikalau berbicara Aksara, maka objek selanjutnya adalah Literasi. Dalam konteks kondisi Indonesia saat ini, sangat tepat jikalau dikaitkan dengan hangatnya masalah Ujaran Kebencian, yang menjadi Trending Topik dalam dunia politik, di media social, sampai angringan ala Raktat Jelata.

Nama Saracen dan selainnya mencuat ke atas. Bukan sekadar terkenal, mereka juga harus berurusan dengan aparat keamanan. Surat Edaran (SE) yang dahulu ditandatangani mantan Kapolri  Jenderal Badrodin Haiti sebenarnya sudah menyoal penanganan ujaran kebencian atau hate speech, dengan Nomor SE/06/X/2015. Surat ini ditandatangani pada 8 Oktober 2015 lalu. Berbagai tindakan preventif sebenarnya sudah diatur dalam SU tersebur. Hanya saja, jikalau tidak mempan juga, maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui upaya penegakan hukum sesuai dengan KUHP, kemudian UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, kemudian UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, kemudian UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 tentang Teknis Penanganan Konflik Sosial.

Ujuran kebencian yang baunya begitu menyengat saat ini, susah dipisahkan dengan rendahnya tingkat literasi di kalangan anak negeri. Saracen hanyalah secuil dari begitu banyaknya kelompok penebar kebencian. Bukan saja dari kalangan kontra pemerintah,  tapi juga dari kalangan pendukung pemerintah. Maka, jikalau pemerintah ingin serius menangani kasus ujaran kebencian ini, maka para penabur kebencian dari kedua kelompok harus dijadikan sasaran, baik dari kalangan pendukung maupun kontra. Objeknya adalah Ujuran Kebencian, bukan kepada siapa dukungan itu mereka berikan.

Lemahnya literasi di kalangan anak negeri, membuat mereka tidak mampu membedakan mana yang kritik dan mana yang penghinaan berbalut kebencian. Harus dipahami dengan baik bahwa jikalau ingin mengkritik, maka kritiklah dengan hati, bukan emosi. Dalam artian, objek yang dikritik itu adalah sesuatu yang salah dan memang layak untuk dipersalahkan. Jikalau ada kebijakan pemerintah yang layak dikritisi, maka kritisilah dengan pemikiran yang dirasa lebih baik dari pemikiran yang dijalankan. Jikalau program dijalankannya dirasa sudah baik, maka dukunglah. Jangan mencari celah untuk menyalahkan.

Kritik bukanlah celaan. Sebelum memberikan statement apapun, maka tentukanlah terlebih dahulu apakah yang dilakukan itu kritikan atau celaan. Jikalau kritik, maka lakukanlah. Sebab, sebuah kritik pasti akan disertai oleh adab dan etika. Ia berasal dari hati dan idealisme. Sedangkan jikalau sifatnya celaan, maka campakkanlah. Sebab, ia berasal dari emosi dan bersifat subjektif. Biasanya, celaan itu melukai dan bertujuan untuk menjatuhkan.

Kemudian, perhatikan juga objek yang dikritik. Perhatikan siapa yang akan dikritik. Jikalau teman sendiri, tentu bisa melakukannya sambil slengekan. Namun, jikalau melakukannya kepada pemimpin atau pejabat atau pihak terhormat, maka lebih berhati-hatilah menjaga etika. Kadar ilmu itu berkaitan dengan kadar etika. Orang yang mulutnya kasar dan perbuatannya menyakitkan, maka itu tanda ketiadaan ilmu di dalam jiwanya.

Jangan asal kritik. Pakailah Ilmu. Gunakan akal dan Logika. Belakangkan emosi. Ketika sebuah kritikan tidak lagi berdasarkan ilmu, maka ia tidak layak didengarkan dan tidak layak disampaikan, sebab itu hanyalah omong kosong yang tidak ada nilainya sama sekali.

Pastikanlah apa yang disampaikan itu bukan atas dasar nepotisme. Adakalanya ketidakberhasilan seseorang menggolkan jagoannya dalam pemilihan membuatnya tidak bersenang hati dengan pemerintah terpilih. Sialnya, rasa sakit hati itu masih bersemayam di dalam jiwa. Akibatnya, keinginan untuk mengkritik semua kebijakan, terus tumbuh dan digencarkan. Tentunya, ini tidak layak. Ketika pesta pemilihan selesai, maka langkah harus disatukan lagi demi kebaikan bangsa. Jikalau program yang dilakukannya bermasalah, maka kritiklah atas dasar maslahah (kebaikan), bukan nepotisme.

Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah kata-kata dan cara yang digunakan untuk mengkritik. Harus beradab. Salah-salah, esensi yang ingin disampaikan malah nanti tidak tertangkap. Inilah yang menyebabkan mengapa banyak kritikan itu tidak mendapatkan sambutan baik. Bahkan, banyak yang diabaikan. Cara yang salah, dan kata-kata yang tidak seharusnya membuatnya berujung sia-sia, bahkan keburukan.

Jangan tergesa-gesa. Sebelum kritikan itu dilayangkan, perhatikan dulu apa yang akan disampaikan; apakah sebuah kenyataan atau sekadar asumsi, atau jangan-jangan hanya sebuah gosip yang tidak berdasar. Sebagai manusia yang memiliki kemampuan pikir, tentu bisa membedakan mana yang hakikat dan mana yang asal jablak saja.

Begitulah. Melek aksara adalah melek literasi. Melek literasi berarti melek informasi. Melek informasi berarti melek kebenaran hakiki dari hoaks yang justru akan memecah anak negeri. Hanya saja, kadangkala sangat disayangkan, ketika ada juga sejumlah anak negeri atau pejabat tinggi yang larut dalam arus kebencian, ikut menyebarkan hoaks dan membagikan ujaran-ujaran perpecahan. Logika itu seringkali dibuat buta oleh cinta dan benci yang sudah melampui batasnya. Hanya kesadaran dan keilmuan yang mampu menangkis semua panah kebencian, yang seringkali dilontar oleh pihak-pihak yang menginginkan perpecahan.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati




Silahkan Dibaca Juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar