Hukum Menjamak Antara Shalat Jumat dengan Shalat Ashar Dalam Safar atau Perjalanan

Pada Kali ini, Kita akan melihat suatu masalah yang juga menjadi banyak pertanyaan umat Islam, yaitu mengenai Hukum menjama’ antara Shalat Jumat dengan Shalat Ashar, yaitu ketika kita berada dalam perjalanan atau safar?

***
Kita harus paham terlebih dahulu bahwa hukum shalat Jumat bagi yang bersafar atau berada dalam perjalanan adalah tidak wajib. Masalah ini akan kita jelaskan lebih rinci dengan dalil-dalilnya di tulisan lainnya.
Artinya apa?
Artinya, jikalau Anda dalam safar, maka Anda mendapatkan keringan untuk tidak mengerjakan shalat Jumat. Anda cukup mengerjakan shalat Zuhur sebanyak 2 rakaat dengan Qashar. Jikalau Anda jumat, juga tidak masalah. Itu sudah cukup untuk mengganti shalat Zuhur Anda.
Nah, kemudian masalahnya, bagaimana hukumnya jikalau Anda tetap mengerjakan shalat Jumat, yang hukumnya boleh-boleh saja, kemudian Anda menjama’nya dengan Shalat Ashar? Apakah boleh? Gimana caranya?

***
 Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Mereka terbagi menjadi dua kelompok.
Pertama, kelompok yang menyatakan boleh men-Jama’ antara Shalat Jumat dengan Shalat Ashar dengan cara Jama’ Taqdim.  Yaitu, jikalau Anda selesai mengerjakan shalat Jumat, maka lansunglah berdiri mengerjakan shalat Ashar sebanyak dua rakaat.
Kelompok ini merupakan kelompok jumhur atau mayoritas ulama. Mereka berpandangan bahwa shalat Jumat adalah ganti dari Shalat Zuhur. Jikalau orang yang musafir atau dalam perjalanan boleh menjama’ antara Shalat Zuhur dengan shalat Ashar, maka boleh juga menjama’ antara Shalat Jumat dengan Shalat Ashar.. Kaedahnya, hukum pengganti sama dengan hukum yang digantikan.
Kedua, Kelompok yang berpandangan bahwa tidak boleh menjama’ antara shalat Jumat dengan Shalat Ashar.
Kenapa?
Menurut kelompok ini shalat Jumat tidak boleh dikerjakan bagi dalam perjalanan. Ia adalah shalat yang diperuntukkan bagi yang mukim alias tidak safar. Menjama’ itu adalah kelaziman safar. Jikalau tidak safar, yang tidak usah jamak. Jikalau safar, ya tidak usah jumatan.
Begitu pendapatnnya….

***
Pendapat mana yang paling kuat?
Pendapat yang paling kuat dan paling bisa dijadikan pegangan dengan pendalilannya adalah pendapat yang pertama. Tidak masalah kita menjama’ antara Shalat Jumat dengan Shalat Ashar. Sebab hakikatnya, shalat Jumat itu adalah ganti shalat Zuhur. Hukum pengganti sama dengan hukum yang digantikan.

***
Begitulah uraiannya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H




Silahkan Dibaca Juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar