Hukum Bershalawat dan Berdoa dengan Lafal-Lafal yang Tidak Diajarkan Nabi Saw

Banyak yang bertanya kepada saya pribadi mengenai hukum bershalawat dengan lafal-lafal yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Saw, tidak sama sekali terdapat dalam sunnahnya; apakah ia termasuk dalam kategori bid'ah atau tidak? Sebab dalam masyarakat kita, lafal-lafal shalawat itu banyak sekali. Namanya bermacam-macam.

***
Pahami terlebih dahulu bahwa shalawat itu ada yang sudah dijelaskan lafalnya oleh Rasulullah Saw, kemudian ada juga yang lafal-lafalnya disebutkan oleh para ulama yang bentuknya hampir mirip dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dan ini, hukumnya tidak apa-apa. Sama sekali tdak terlarang dala syariat.
Jikalau Anda perhatikan kitab al-Risalahnya Imam al-Syafii, maka Anda akan mendapati shalawat ala Imam al-Syafii, yaitu:
فصلى الله على نبينا كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون
Fashallallahu ala Nabiyyina Kullama Dzakarahu al-Dzakirun wa Ghafala an Dzikrikal Ghafilun.

***
Artinya apa?
Artinya, jikalau kita ingin bershalawat kepada Nabi Saw atau berdoa dengan lafal-lafal yang tidak terdapat dalam sunnah, selama ia tidak mengandung makna Ghuluw (berlebihan) dalam menyifati Nabi Saw, maka hukumnya tidak apa-apa. Dalam artian, jangan sampai kita menyifati Nabi Saw dengan sifat-sifat yang tidak layak disematkan kepadanya, yang hanya layak disematkan kepada Allah SWT.

***
Baiknya, Gimana?
Jikalau Anda bertanya tentang baiknya, ya pastinya baiknya jikalau kita bershalawat dan berdoa dengan lafal-lafal yang terdapat dalam sunnah Rasululah Saw, yang sudah diajarkannya dalam berbagai haditsnya.
Pada suatu hari, ada sahabat yang bertanya kepada Nabi Saw:
“Ya Rasulullah, ajarkanlah kami bagaimana kami bershalawat kepadamu?”
Beliau menjawab:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد
Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Ali Muhammad, Kama Shalayta ala Ali Ibrahim, Innaka Hamidun Majid.. (Hr al-Bukhari, Muslim, dan selainnya)
Ini hanyalah salah satu bentuk lafal shalawat kepada Nabi Saw. Ada bentuk lainnya. Di tulisan lainnya, Insya Allah akan kita jelaskan.

***
Apa ada Pendapat Ulama dalam hal ini?
Ada. Imam al-Suyuti menjelaskan:
“Saya membaca al-Thabaqat karya Taj al-Din al-Subki, yang menukil dari bapaknya. Begini Nashnya: Sebaik-baik lafal bershalawat kepada Nabi Saw dengan lafal yang dibaca ketika Tasyahhud. Barangsiapa yang mengucapkannya, maka artinya ia sudah bershalawat kepada Nabi Saw dengan suatu yang yakin. Barangsiapa yang bershalawat dengan sekainya, maka ia bershalawat dengan keraguan atau sesuatu yang mengandung keraguan. Sebab, para sahabat bertanya kepada Nabi Saw: ‘Bagaimana kami bershalawat kepadamu?’ Maka beliau menunjukkan shalawat itu seperti itu. Ketika masih muda, jikalau bershalawat kepada Nabi Saw, maka saya membaca:
اللهم صل وبارك وسلم على محمد وعلى آل محمد كما صليت وباركت وسلمت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد
Maka, ada yang mengatakan di dalam mimpiku: ‘Jikalau tidak ada makna lebihnya, maka Nabi Saw tidak akan mengutamakannya.’
Kemudian saya beristighfar dan kembali bershalawat dengan lafal yang diajarkan Nabi.”
Ia melanjutkan:
“Jikalau bersumpah untuk bershalawat kepada Nabi Saw dengan shalawat terbaik, maka jalan terbaiknya adalah membaca shalawat tersebut.” (selesai)

***
Selainnya?
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsmain juga menjelaskan:
“Shalawat-shalawat bersajak yang terdapat di sejumlah Kitab, dengan sifat-sifat yang kadangkala tidak boleh disifatkan kecuali kepada Allah SWT, maka hati-hatilah  dan jauhilah. Jangan sampai Anda tertipu dengan sajak/ keindahan bahasa yang mungkin bisa membuat airmata Anda tumpah dan hati Anda berdetak. Peganglah yang Asli dan Asal. Tinggalkanlah jenis-jenis yang dibuat tanpa ilmu dan tanpa kuasa ilmu.”

***
Kesimpulannya?
Jikalau Anda ingin bershalawat kepada Nabi Saw dengan lafal-lafal yang tidak berasal dari Sunnah Nabi Saw, maka hukumnya tidak apa-apa, tidak bidah juga. Asalkan, tidak mengandung makna-makna yang bertentangan dengan syariat, seperti ghuluw (berlebih-lebihan), menyifati Nabi Saw dengan sesuatu yang tidak layak bagi seorang manusia dan Nabi, dengan sifat-sifat yang hanya layak bagi Allah SWT.
Selamatnya, jikalau kita bershalawat dengan lafal-lafal yang sudah diajarkan Nabi. Itu paling Aslam, paling selamat. Tapi, jangan pula kita bid’ahkan yang lainnya. Sebab, Imam al-Syafii juga bershalawat dengan lafalnya sendiri dalam kitabnya al-Risalah.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H




Silahkan Dibaca Juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar