Hukum Berpuasa Sebulan Penuh di Bulan Muharram?

Masalah: Bagaimana hukumnya jikalau kita berpuasa di Bulan Muharram selama sebulan penuh? Apakah hal itu boleh dalam Syariat Islam?

***
Tidak diragui bahwa memperbanyak puasa di bulan Muharram adalah sesuatu yang disyariatkan dalam Islam. Jikalau kita mampu melakukannya, maka kita sudah melakukan suatu kebajikan dan amal ketaatan. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم.
“Puasa terbaik setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang kalian namakan dengan Muharram.”

Kemudian al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbaly berkomentar:
“Hadits ini jelas menyatakan bahwa puasa sunnah terbaik setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah SWT yang dikenal dengan nama Muharram. Bisa jadi maksudnya adalah: bulan terbaik untuk berpuasa sunnah secara penuh setelah bulan Ramadhan. Sedangkan mengenai puasa sunnah di sejumlah hari di bulan itu, maka bisa jadi lebih baik dari berpuasa selama beberapa hari saja, sebagaimana baiknya berpuasa di Hari Arafah, atau sepuluh hari di awal bulan Zul Hijjah, atau 6 hari di bulan Syawwal, dan selainnya. Hal ini dikuatka oleh hadits yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa seseorang mendatangi Nabi Saw dan berkata:
“Wahai Rasulullah, beritahulah kami suatu bulan yang bisa kami berpuasa di dalamnya setelah Ramadhan?”
Beliau menjawab:
“Jikalau kalian mau berpuasa sebulan setelah Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Muharram, sebab ia adalah bulan Allah SWT yang Dia menerima  taubat para kaum.” (Sanad hadits ini ada sejumlah komentarnya)

Al-Qary mengatakan dalam al-Mirqa:
“Al-Thiby menjelaskan bahwa berpuasa di bulan Allah SWT itu maksudnya adalah berpuasa di hari Asyura (hari ke-10 bulan Muharram).  Hal ini masuk dalam bab menyebutkan seluruhnya, namun yang dimaksud adalah sebagiannya. Bisa dikatakan ini berkaitan dengan keutamaan bulan Muharram karena ada hari Asyura di dalamnya. Namu zahir hadits menunjukkan bahwa maksudnya adalah seluruh bulan Muharram.”

***
Apa Kesimpulannya?
Kesimpulannya, jikalau mau berpuasa sebulan penuh di bulan Muharram, maka itu oke-oke saja, amalan yang baik, dan silahkan dilakukan. Semakin banyak seorang muslim berpuasa di bulan Muharram, maka semakin banyak pahalanya.

Dalam Kitab Kassyaf al-Qanna’ dijelaskan:
“Disunnahkan berpuasa di bulan Muharram. Ia adalah sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan, sesuai denga n sabda Rasulullah Saw, ‘Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat di pertengahan malam. Puasa terbaik setelah Ramadhan adalah di bulan Allah SWT; Muharram.’ Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Abu Hurairah.

***
Sekian… Mudah-mudahan bermanfaat. Kritik dan saran sangat diharapkan. Jikalau ada salah-salah kata, mohon dimaafkan.
Jikalau ada pertanyaan, silahkan komentar di kolom. Jangan lupa, Ikuti Facebook penulis disini: Denis Arifandi Pakih Sati

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Read More »

Apakah Maksud Hadits Para Wanita itu Kurang Akalnya dan Kurang Agamanya?

Masalah: Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw dijelaskan bahwa para wanita itu kurang akalnya dan kurang agamanya, Nah, apakah maksud hadits itu? Apakah itu hanya berlaku ketika perempuan sedang haidh saja atau bagaimana?

***

Hadits ini diriwayatkan dalam al-Shahihain, dari Abu Said al-Khudry radhiyallahu anhu bahwa suatu hari Rasulullah Saw berangkat menuju lapangan ketika Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri, kemudian beliau mengatakan:
يا معشر النساء ‏تصدقن فإني رأيتكن أكثر أهل النار
“Wahai sekalian wanita, bersedekahlah. Saya melihat kalian mayoritas penduduk neraka.”
Para wanita dari kalangan sahabiyat itu berkata:
“Kenapa wahai Rasulullah?”
Beliau Menjawab:
تكثرن اللعن وتكفرن العشير . ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل ‏الحازم من إحداكن
“kalian sering melaknat dan mengkufuri suami. Saya belum pernah mengerti orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih menghilangkan lubb (akal yang bersih dari hawa-nafsu dan emosi) daripada seorang kalian.”
Mereka bertanya:
“Apakah kekurangan agama kami dan akal kami, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Bukanlah persaksikan perempuan setengah dari persaksikan laki-laki?”
Mereka bertanya lagi:
“Ya.”
Beliau berkata:
“Itulah kekurangan akalnya. Bukanlah ketika perempuan haidh, ia tidak shalat dan tidak berpuasa.”
Mereka menjawab:
“Iya.”
Beliau berkata lagi:
“Itulah kekuragan agamanya.”

***

Dalam surat al-Baqarah ayat 282 sebenarnya juga dijelaskan kenapa persaksian perempuan setengah dari persaksikan laki-laki, yaitu agar antara satu wanita mengingatkan wanita lainnya tentang persaksiannya jika ada kesalahan. Ini hukumnya bukan ketika haidh saja. Diluar haidh, juga sama.

***

Berkaitan dengan kurangnya agama dalam beribadah ketika para wanita haidh, maka itu berkaitan dengan perbandingan dengan manusia yang sempurna sifat taklifnya, yaitu kaum lelaki.

***

Nah, begitulah maksud hadits yang seringkali digunakan oleh kaum orientalis untuk menyerang Islam, seolah-olah Islam adalah agama yang tidak memuliakan perempuan. Pandangan yang salah dari kalangan orientalis ini juga banyak mempengaruhi kalangan pejuang persamaan Gender di Indonesia.

Terimakasih… Jikalau ada kritik dan saran, kami sangat mengharapkannya. Pertanyaan pun jikalau ada, silahkan komentar di kolom yang sudah disediakan di kolom komentar. Makasih atas kunjungannya.  COPAS silahkan saja. Syaratnya, sertakan LINK sumber ke Blog ini.

Jazakallah khairan katsiran…

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati
Read More »

Apakah Ada Keutamaan Khusus Berpuasa di Hari Pertama Bulan Muharram?

Masalah: Apakah ada keutamaan khusus yang berkaitan dengan puasa di awal bulan Muharram?

***
Jikalau berbicara secara khusus, maka kita tidak akan mendapati Nash secara khusus yang menjelaskan mengenai keutamaan atau fadhilah berpuasa di awal bulan Muharram ini. Naun, ada dalil-dalil yag mensyariatka kita untuk berpuasa. Ada sabda Rasulullah Saw yang mendorong kita untuk banyak-banyak berpuasa di bulan Muharram:
أفضل الصيام بعد الفريضة شهر الله الذي تسمونه المحرم
“Sebaik-baik puasa setelah puasa wajib adalah puasa di bulan Allah yang kalia namakan Muharram.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya)

Kemudian, ada riwayat lainnya yang menjelaskan bahwa Nabi Saw berpuasa selama tiga hari di awal setiap bulan. Beliau berpuasa di hari Sabtu, Ahad, dan Senin di setiap bulannya, kemudian juga di hari Selasa, Rabu, dan Kamis setiap bulannya. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Turmudzi dengan derajat hadits Hasan.

***
Artinya, jikalau kita berpuasa berdasarkan hal ini, maka ia menjadi suatu amalan yang baik. Sedangkan jikalau kita berkeyakinan bahwa ada dalil khususnya, ini yang mungkin akan menimbulkan tanda tanya.

***
Semoga bermanfaat… Saran dan Kritikan diharapkan. Jikalau ada pertanyaan, silahkan tanyakan di kolom komentar.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Read More »

Eksistensi Wanita Dalam Barisan ISIS

Di pertengahan Agustus 2017, 18 mantan simpatisan ISIS kembali ke Tanah Air dari Syiria. Selama dua tahun, mereka "terpaksa" harus berada di antara orang-orang yang sebelumnya mereka anggap "islami", namun nyatanya jauh dari Syariah Islam. Dalam sebuah acara dialog di salah satu Televisi Swasta, diundanglah dua orang dari 18 orang yang berhasilnya menyelamatkan diri tadi. Nama keduanya adalah Nurshadrina (18) dan Lasmiati, seorang ibu rumah tangga yang juga bibi dari Nurshadrina.

Mereka menjelaskan dengan detail bahwa janji-janji dan propaganda-propaganda yang selama ini disebarkan ISIS di Internet hanyalah omong kosong semata. Di bawah bendera ISIS, bukannya kehidupan Islami yang didapatkan. Malah, mereka hanya mendapatkan kehidupan yang penuh dengan kezaliman, jauh-jauh dari nilai-nilai Islam. 

Dalam dialog itu, Nurshadrina menjelaskan bahwa ketika sampai disana, mereka diperlakukan tidak manusiawi, ditempatkan di asrama yang kotor dan tidak layak. Mereka diklasifikasi sesuai dengan status masing-masing; antara yang sudah menikah dengan yang belum menikah, yang masih gadis dengan yang sudah janda. Sedangkan untuk para lelakinya, mereka harus ikut berperang di barisan ISIS.

Lebih lanjut, kata Nurshadrina, setiap hari para anggota ISIS datang ke Asrama untuk meminta kepada pimpinan asrama para wanita yang belum menikah atau yang sudah janda. Pagi datang, sorenya harus ada jawaban. Tidak peduli, apakah wanitanya setuju atau tidak. Intinya, orang-orang yang datang ke wilayah ISIS, jikalau ia laki-laki, maka akan dijadikan pasukan perang. Jikalau perempuan, maka akan menjadi pemuas nafsu para pasukannya, walaupun dinamakan nikah.

Kenapa Para Wanita Mau Berhijrah ke Wilayah ISIS?

Para wanita yang datang ke wilayah ISIS bukan hanya dari Irak dan Syiria saja, namun dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Afrika Utara; Mesir dan Tunisia, kemudian juga dari Arab Saudi, dari Amerika Serikat dan Eropa; khususnya Perancis, Inggris dan Jerman yang rata-rata juga keturunan Arab namun dengan status Warga Eropa. Kemudian yang tidak kalah jumlahnya, juga dari wilayah Asia, yang salah satunya adalah Indonesia.

Faktor yang mendorong mereka untuk berada bergabung dengan barisan ISIS ini bermacam-macam, yaitu tercakup dalam beberapa hal berikut ini:
Pertama, Faktor Emosional
Faktor ini berlaku para wanita yang berasal dari Irak dan Syiria. Ketika mereka kehilangan suami mereka, atau anak-anak mereka, atau anggota keluarga mereka, maka mereka terdorong untuk bergabung dengan ISIS agar bisa memberikan pembalasan sekaligus untuk mendapatkan naungan baru yang dalam pandangan mereka, mungkin bisa memberikan kehidupan lebih baik.

Kedua, Faktor Nepotisme Kelompok
Awalnya adalah pertarungan politik, kemudian berubah menjadi pertarungan antar kelompok berbalut Nepotisme. Sebagian wanita yang bergabung dalam barisan ISIS bukan karena setuju dan sepaham dengan ISIS, namun karena keyakinan bahwa yang mereka lakukan itu adalah untuk melawan pemerintah yang dikuasai oleh Syiah Rafidhah. Mereka berpandangan, bergabung dengan ISIS adalah jalan untuk membela sunni yang tertindas.

Ketiga, Faktor Ideologi
Sebagian wanita yang bergabung dengan ISIS tertarik karena pemikiran-pemikiran yang mereka propagandakan. Apalagi ketika ISIS mengumumkan al-Khilafah al-Islamiyah dengan dipimpin oleh Khalifah, ini semakin menarik kalangan Islamis untuk bergabung dengan ISIS, agar bisa hidup di bawah naungan kekhilafahan. Kemudian di sisi lain, mereka tentunya harus bergabung berjuang di bawah bendera ISIS.

Keempat, Faktor Sosial
Para wanita yang berasal dari Eropa asli, mereka rata-rata berasal dari kondisi keluarga dan social yang tidak baik. Maka, mereka mencari pelarian untuk mendapatkan ketenangan. Sedangkan para wanita Eropa keturunan Arab, mereka berharap dengan hijrahnya ke wilayah ISIS, mereka tidak akan lagi merasa “asing” sebagaimana yang selama ini mereka rasakan di Eropa.

Kelima, Faktor Kemanusiaan
Para wanita Eropa yang pindah ke wilayah ISIS, rata-rata mereka tumbuh dalam paham-paham keeropaan yang baik, misalnya paham keadilan, paham persamaan, dan paham Hak Asasi Manusia. Maka, ketika didapati sesuatu yang tidak baik di wilayah Irak dan Syiria, mereka menolaknya dan tidak bisa menerimanya. Mereka pindah ke wilayah bisa dengan paham jihadnya atau dengan tujuan kemanusiaan.

Tugas Para Wanita dalam Barisan ISIS

Sebagaimana laporan dari The Regional Center for Strategic Studies (RCSS) yang berada di Kairo bahwa para wanita dalam barisan ISIS, selain memiliki peran mengangkat senjata, mereka juga memiliki tugas-tugas yang berkaitan dengan Rumah Tangga, merawat keluarga dan suami-suami mereka yang ikut berperang bersama ISIS, tugas-tugas kemanusiaan; merawat orang-orang yang terluka, membawa dana dari satu negara ke negara lainnya sampai ke kantong ISIS, atau bertugas di Kepolisian Wanita, melakukan propanda di Media Sosial, kemudian juga ikut dalam latihan militer ringan agar bisa menjaga diri. Lebih lanjut Regional Center for Strategic Studies (RCSS) menjelaskan bahwa 10 % dari pasukan ISIS adalah para Wanita yang berasal dari berbagai Negara. Mereka memang sengaja datang kesana untuk bergabung dengan wilayah al-Khilafah al-Islamiyah yang diklaim oleh ISIS. Berdasarkan asal negaranya, maka para Wanita asal Perancis memiliki jumlah paling besar, sekitar 100-150 orang.

Jika dikatakan bahwa Para Wanita dalam ISIS hanyalah untuk Pabrik Anak, itu bisa dimengerti. Sebab, pasukan ISIS sebagian besarnya adalah warga Negara Asing atau Para Pendatang. Dengan semakin gencarnya serangan-serangan yang ditujukan kepada ISIS, jumlah anggota mereka semakin hari semakin berkurang. Dan dengan memperbanyak anak adalah salah satu jalan untuk menambah jumlah pasukan di masa depan. Apalagi dengan aktifnya kampanya anti ISIS di hampir seluruh Negara di dunia, maka propaganda-propganda yang selama ini di lakukan ISIS melalui dunia maya, akan semakin tidak efektif. Jumlah yang datang dari luar semakin sedikit, maka jumlah yang lahir dari dalam harus diperbanyak.

Efek Positif Para Wanita Mantan ISIS di Indonesia

Dengan berhasil kembalinya sejumlah para wanita yang dahulu pernah bergabung dengan ISIS, kemudian mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa hakikatnya ISIS, bisa memberikan kesadaran kepada orang-orang yang mungkin saja tergoda dengan propaganda-propganda yang selama ini banyak dilakukan ISIS di dunia maya. Semua orang, terutama Rakyat Indonesia, harus paham bahwa keindahan yang digambarkan ISIS hanyalah ilusi; khayalan hampa berujung nestapa.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati
Read More »

Bukan Sekadar Status Haji

Kamis (14/9/2017), tepat pukul 06.59 WIB, sebanyak 351 anggota kloter 23 asal Gunung Kidul mendarat di Bandara Adi Soemarmo, kemudian diikuti rombongan kedua dari Kloter 24 asal Kota Yogyakarta pada sore harinya pukul 16.29 WIB. Mereka adalah rombongan pertama jamaah haji asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah sampai di tanah air. Alhamdulillah, segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang memberikan kemudahan kepada para jamaah Haji untuk bisa menunaikan rukun Islam kelima dengan sebaik-baiknya, terutama yang berasal dari Daerah Istimiewa Yogyakarta.

Berdasarkan catatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), jumlah jamaah haji asal Jateng-DIY yang meninggal hingga Senin (11/9), tercatat sebanyak 61 jamaah, yang 59 jamaah diantaranya meninggal di tanah suci, kemudian satu jamaah lagi meninggal di Asrama Haji Donohudan sesaat sebelum keberangkatan, serta satu jamaah meninggal di dalam pesawat saat perjalanan pulang ke tanah air pada Minggu (10/9).

Tidak ada harapan tertinggi yang bisa diharapkan bagi para haji, kecuali agar mereka bisa mendapatkan Haji yang Mabrur. Untuk menentukan apakah haji itu mabrur atau tidak, adalah dengan melihat bagaimana tindak-tanduk, polah dan lakunya pasca pulang ke tanah air. Jika setelah menunaikan ibadah haji, ibadahnya makin rajin, ke mesjidnya semakin sering, amal kebajikan dan amal sosialnya semakin hebat, maka itulah tanda haji yang mabrur. Sebaliknya, jikalau pasca kepulangnya, keburukannya dan kejahatannya malah bertambah-tambah, maka itulah haji yang Maghrur, yaitu haji yang tertipu karena statusnya. Haji jenis ini adalah haji yang terpesona dengan peci hajinya, tapi tidak paham nilai hakikinya. Status haji yang dimilikinya, hanya akan dimanfaatkannya untuk membesarkan diri, meninggikan ego, dan membusungkan dada. Tidak ada yang akan didapatkannya dari haji yang dikerjakanya, kecuali lelah dan besarnya biaya.

Mengerjakan ibadah haji adalah puncak dari rukun Islam. Biayanya mahal. Antrian keberangkatannya panjang. Sia-sia jikalau hanya sekadar dapat status haji. Sia-sia jikalau tidak bisa berkontribusi. Dalam pandangan masyarakat, haji adalah manusia terhormat. Maka, bumikanlah pandangan masyarakat itu. Berikanlah apa yang mampu diberikan kepada masyarakat.

Jikalau tidak mampu berkontribusi lebih, maka paling tidak jangan jadi sosok perusak negeri. Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw tentang amalan yang paling baik. Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.” “Jikalau kami tidak mampu,” kata para sahabat. “Memerdekan budak yang paling mahal harganya.” “Jikalau tidak mampu?” kata sahabat lebih lanjut. “Mengajarkan ilmu agar orang menjadi ahli.” “Jikalau tidak mampu?” Beliau menegaskan: “Kalian menahan keburukan kalian dari orang lain, maka itu adalah sedekah kalian bagi diri kalian sendiri.” (Shahih al-Bukhari 2518, Shahih Muslim 84)

Memahami Makna Haji dalam Konteks Kebangsaan

Haji itu bukan ritual semata. Ada makna-makna yang tersirat dibaliknya dalam konteks kebangsaan, yang jikalau dipahami dengan baik, maka itulah yang harusnya menjadi paham yang mendarah daging dalam diri para Haji.

Apa Saja itu?

Pertama, Paham Kesetaraan
Inilah paham pertama yang harus dipahami dengan baik oleh Para haji. Semua umat manusia yang menunaikan haji di Baitullah, posisinya sama. Tidak ada perbedaan ras, status social, dan kedudukan politik. Hanya taqwa saja yang membedakan kedudukannya di sisi Allah SWT. Paham ini harus dibawanya kembali ke tanah air, kemudian diterapkannya dalam alam nyata.

Kedua, Paham Persaudaraan
Manusia itu bukan hanya yang ada di Indonesia. Buktinya, semua manusia yang ada di dunia berkumpul di tanah Makkah. Ini membuktikan bahwa aqidah dan kemanusiaan adalah ikatan kuat yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Kasus Rohingya, mungkin salah satu yang harus menjadi perhatiannya saat ini.

Ketiga, Paham kedisiplinan
Haji mengajarkan banyak makna kedisplinan. Mulai dari bulan mengerjakannya. Haji tidak akan sah jikalau dikerjakan diluar bulan Zul Hijjah. Kemudian juga rukunnya, wajibya, dan syarat-syaratnya harus dijaga dengan sebaik-baiknya agar hajinya sah dan tidak batal.
Itulah beberapa makna haji dalam konteks kebangsaan. Jikalau digali lebih dalam, tentu akan ditemukan lebih banyak lagi. Namun satu hal yang harus dipahami dari tulisan ini bahwa haji haruslah berujung dengan kontribusi, jangan hanya berdiam diri, memikirkan diri sendiri. Rugi.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati
Read More »