Hadits-Hadits Tentang Malam Nishf Sya'ban (Pertengahan Bulan Sya'ban)

Malam Nishf Sya’ban (Malam Pertegahan Bulan Sya’ban) merupakan malam yang mulia. Ia berada di bulan yang menjadi pengantar bulan Ramadhan. Di bulan ini, kita sebagai umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnah.

Hanya saja masalahnya, ada yang mengisi malam Nishf Sya’ban ini dengan ibadah-ibadah khusus yang bisa dikatakan, tidak didapatkan tuntunannya dari Nabi Muhammad Saw. Seringkali, ibadah yang dilakukan ini bersifat turun-menurun. Jikalau ditanya “kenapa Anda melakukan ibadah ini di malam Nisfh Sya’ban?”, misalnya. Biasanya mereka akan menjawab, “Inilah yang dahulu dilakukan para pendahulu kami, nenek moyang kami.”

Ada juga yang memaparkan sejumlah hadits (klaimnya) untuk menguatkan kebiasaan Malam Nisfh Sya’ban yang mereka lakukan.Mazhabnya orang Awam adalah Mazhab Kyainya, Ustadznya. Kayaknya apa Ustadznya, kayak itulah Jamaahnya.Makaya, seorang Kyai atau Ustadz, saya rasa harus memahami juga masalah ini dengan baik. Masalah ini harus dilihat Objektif, bukan Masalah Wahabi atau bukannya; bukan masalah Muhammadiyah atau NU nya. Kita objektif saja. Kita muslim. Itu sudah cukup.

Mari Kita lihat Hadits-Hadits terkait Malam Nishf Sya’ban ini

Malam Nishf Sya'ban


Hadits-Hadits Seputar Malam Nishf Sya’ban (Pertengahan Bulan Sya’ban)


Aisyah radhiyallanhu anha meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
يطلع ربنا ليلة النصف من شعبان فيغفر للمستغفرين ويرحم المسترحمين ويترك أهل الحقد
"Allah SWT menampakkan diri di malam Nishf Sya'ban (Pertengahan Bulan Sya'ban), kemudian Dia mengampunkan orang-orang yang meminta ampunan, merahmati orang-orang yang meminta rahmat-Nya, dan meninggalkan para pendengki."

Hadits dengan lafadz ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman. Imam Ib al-Jauzi menghukumi Hadits ini sebagai Hadits Maudhu' (Palsu) dalam Kitab al-'Ilal al-Mutanahiyah, dan pendapatnya ini dinukil oleh al-Hafidz Ibn Hajar, dan ia menetapkannya.

Sedangkan riwayat al-Thabrani dan Ibn Hibban dari Muadz, kemudian dikomentari oleh al-Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib bahwa pensanadannya tidak masalah:
يطلع الله في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
 "Allah SWT menampakkan diri-Nya di malam Nishf Sya'ban (Pertengahan Bulan Sya'ban), kemudian Dia mengampunkan semua makhluk-Nya kecuali orang yang muyrik dan yang bertengkar."

Hadits di atas menjadi dasar sejumlah ulama dari kalangan Ahli Fikih  tentang sunnahnya menghidupkan malam Nishf Sya'ban ini (Malam Pertengahan Sya'ban), agar seorang mukmin mendapatkan rahmat Allah SWT dan ampunan-Nya.


Perbuatan Terlarang di Malam Nishf Sya’ban (Pertengahan Bulan Sya’ban)


Ibn Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada sejumlah Salaf yang menghidupkan malam ini. Perbuatan yang di-Makruhkan itu adalah berkumpul di Masjid. Mereka menganggapnya sebagai bentuk Bid'ah. Sedangkan jikalau ada yang sampai melakukan Shalat Khusus, dengan jumlah bilangan tertentu, dengan bacaan tertentu, ini jelas bentuk Bid'ah.

Imam al-Nawawi menjelaskan dalam al-Majmu':
"Shalat yang dikenal dengan nama Shalat al-Raghaib, yang jumlahnya dua belas rakaat, yang dikerjakan antara Maghrib dan Isya di Jumat pertama bulan Rajab, kemudian shalat Malam Nishf Sya'ban sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah shalat bid'ah, yang munkar. Jangan sampai tertipu karena keduanya disebutka dalam Kitab Quut al-Qulub, Ihya' Ulum al-Din, dan hadits yang disebutkan terkait keduanya. Semuanya Batil."


Hadits Palsu Tentang Malam Nishf Sya’ban (Malam Pertengahan Bulan Sya’ban


Hadits yang disinggung oleh Imam al-Nawawi itu adalah hadits yang (diklaim) diriwayatkan dari Nabi Saw:
من صلى في هذه الليلة خمس عشرة من شعبان مائة ركعة أرسل الله إليه مائة ملك، ثلاثون يبشرونه بالجنة، وثلاثون يؤمنونه من عذاب النار، وثلاثون يدفعون عنه آفات الدنيا، وعشرة يدفعون عنه مكائد الشيطان
"Siapa yang shalat di Malam ini; malam ke-15 Bulan Sya'ban sebanyak seratus rakaat, maka Allah SWT mengutus kepadanya seratus Malaikat; tiga puluh di antaranya memberikannya kabar gembira akan mendapatkan surga, tiga puluh lainnya mengamakannya dari siksa kubur, tiga puluh lainnya lagi menolak darinya bahaya-bahaya dunia, dan sepuluh lainnya menolak darinya segala godaan setan."

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa Hadits ini BATIL.


Apa yang Seharusnya Dilakukan Seorang Muslim/ Mukmin?


Seorang muslim, di malam Nishf Sya'ban (Malam Pertengahan Bulan Sya'ban) ini seharusnya berusaha keras untuk melakukan berbagai ketaatan kepada Allah SWT, menghidupkan malam dengan amal shaleh. Hanya saja, jangan sampai diisi dengan hal-hal yang baru (bid'ah), yang tidak ada tuntutannya dari Nabi Muhammad Saw, seperti shalat Khusus, dengan bacaan khusus, dan jumlah yang khusus.

Sebab, periwayatan yang menjelaskan shalat seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan alias BATIL. Sedangkan dalam ibadah ada kaedah yang mengatakan al-Ash fi al-Ibadah Tauqifi (hukum asal dari Ibadah itu adalah Tawqifi). Artinya, jikalau tidak ada perintahnya, tidak ada tuntunannya, ya tidak dikerjakan. Jikalau ada perintahnya, ada tuntutannya, baru dikerjakan. Jangan sampai semangat kita beragama membuat kita masuk dalam jaring-jaring Iblis.

...
Perhatian!
...

Jikalau Anda menyaksikan ada yang lainnya menghidupkan malam ini, yaitu Malam Nishf Sya'ban dengan ibadah-ibadah yang khusus, seperti shalat khusus malam Nishf Sya'ban, jangan lansung Anda tuduh SESAT atau AHLI BID'AH. Sebab, bisa jadi ia tidak tahu masalah ini dengan baik, ia hanya mengikuti kebiasaan yang sudah menjadi trend dalam masyarakat. Jalan terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dakwahi dengan baik, diskusi dengan cara yang benar. Jangan main "babat" saja.

Ingat, ya! []
Read More »


Apakah Suara Perempuan itu Aurat?

Perempuan itu seringkali menjadi objek yang dipandang sebelah mata. Semua kesalahan yang dilakukan oleh para lelaki, khususnya yang terkait dengan syahwat mereka, perempuan selalu menjadi sasaran. Saya bicara begini bukan berarti saya aktifis feminism, ya!

Laki-laki berzina, yang disalahkan perempuan “kenapa penampilannya menggoda?”. Laki-laki menikah lagi, ibu-ibu bully istri madunya dengan sebutan “pelakor” alias perebut laki orang. Dan masih banyak masalah-masalah serupa lainya.

Kita tidak bisa menyalahkan perempuan begitu saja. Laki-laki juga salah. Kita harus melihat masalah ini dengan porsi seharusnya, objektif. Berimbang. Setiap masalah harus dilihat dari segala sisi.

Perempuan dan lelaki itu secara fitrah memang berbeda. Mereka memiliki tugas masing-masing, yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada hal-hal yang kedudukannya sama antara laki-laki dan perempuan. Ada yang hal-hal yang khusus laki-laki saja, sebagaimana ada juga hal-hal yang khusus perempuan semata.

Salah satu masalah yang seringkali menjadi bahan olokan di kalangan umat Islam, khususnya lelaki, adalah masalah suara perempuan itu Aurat. Saya rasa, ada kesalahan pahaman disini yang harus diluruskan dengan baik. Suara perempuan itu bukan mutlak Aurat, haram begitu saja. Harus dipahami dulu teks dan konteksnya dengan baik. Al-Hukm ‘ala Syai Far’ ‘an Tashawwurihi (klaim terhadap sesuatu adalah cabang dari deskripsinya). Jikalau deskripsi salah, apalagi tidak baca dengan baik, ya konklusinya salah.

Suara Wanita Aurat?


Suara Perempuan itu Bukan Aurat


Ini poit pertama yang harus Anda pahami dengan baik. Suara perempuan itu bukan Aurat. Dalilnya adalah firman Allah SWT:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
"Jika kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Itu lebih bersih bagi hati kalian dan hati mereka." (Surat al-Ahzab: 53)

Walaupun di balik hijab, suara para istri Nabi tetap terdengar. Nah, ini menunjukkan bahwa suara itu bukanlah aurat. Sebab, ia bisa didengar dengan baik. Jikalau suara itu aurat, maka tidak boleh bertanya kepada para wanita, walaupun itu di balik hijab.


Suara Wanita Seperti Apa yang Terlarang?


Suara wanita yang dilarang itu adalah  suara yang dibuat mendayu-dayu, sengaja dilembut-lembutkan, sehingga membangkitkan penyakit yang ada di hati orang-orang yang jiwanya memang bermasalah. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
"Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. " (Surat al-Ahzab: 32_)


Itu kan Larangan Untuk Para Istri Nabi?


Iya, Anda benar. Larangan dalam ayat itu memang ditujukan bagi para istri Nabi. Namun, dalam tafsir itu ada kaedah yang menyatakan begini:
Al-Ibrah bi Umum al-Lafadz La bi Khusus al-Sabab
“Ibrah itu dengan keumuman lafal, bukan dengan kekhususan sebab.”

Artinya?
Walaupun ayat ini ditujukan kepada istrinya Nabi, secara lafal dan sebab, namun ia umum ditujukan kepada seluruh wanita.


Gimana Hukumnya Jikalau Kita Para Wanita Sudah Bicara Baik-Baik, Biasa saja, Tidak Mendayu-dayu, Namun Ada Saja Laki-Laki yang Terfitnah/ Tergoda?


Jikalau itu terjadi, maka yang salah dan yang berdosa adalah pihak yang mendengarkan. Sebab, Anda sudah melakukan yang sebenarnya. Bicara Anda sudah baik, dan tidak mendayu-dayu. Pendengarnya itulah yang bermasalah. Psikisnya rusak, agamanya hancur. Orang semacam ini harus segera memohon ampunan kepada Allah SWT, bertaubat kepada-Nya. Sebab, syahwatnya sudah menguasai dirinya.


Kesimpulan


Suara Perempuan itu bukan Aurat. Asalkan, jangan diucapkan dengan mendayu-dayu, suara merayu, yang akan membuat tergoda orang yang di dalam hatinya berpenyakit, yang jiwanya berada di bawah baying-bayang syahwatnya. []
Read More »


Hukum Pinjaman (al-Qardh) dari Bank Konvensional & Bank Syariah?

Hidup itu tidak selalu berjalan mulus seperti yang kita bayangkan. Kadangkala, ketika masih enak-enaknya menikmati kabar bahagia, ada saja kabar buruk yang menghampiri. Kadangkala, ketika menikmati usaha yang lagi melaju pesat, ada saja masalah yang membuat hati yang menjadi keruh.

Salah satu masalah yang sering atau kerap menimpa kita adalah masalah keuangan. Misalnya, usaha yang kita jalankan ramai dan banyak pelanggan, hanya saja untuk berkembang membutuhkan modal banyak, sedangkan kita kekurangan banyak modal. Bagaimana solusinya? Jikalau meminjam ke Bank atau Lembaga Keuangan, bagaimana hukumnya?

Anak kita pandai bersekolah dan pintar dalam masalah akademik, hanya saja kita kekurangan dana untuk menyekolahkannya lebih lanjut. Bagaimana hukumnya jikalau kita mengajukan pinjam ke bank atau ke Lembaga Keuangan/ Syariah?

Begitu juga dengan masalah-masalah serupa lainnya, yang seringkali tersandung dengan yang namanya “dana… oh dana…”

Oke, mari kita bahas masalah yang satu ini


Hukum Pinjaman dari Bank/ Lembaga Keuangan


Pinjaman (al-Qardh) dari Bank itu, pada dasarnya hukumnya halal, boleh-boleh saja. Asalnya, pinjaman (al-Qardh) itu sesuai dengan Syariat Islam/ ketentuan dalam Islam. Sedangkan jikalau pinjaman (al-Qardh) itu mengandung sesuatu yang bertentangan dengan Syariat Islam/ Ketentuan dalam Islam, maka hukumnya haram.

Pinjaman (al-Qardh) yang sesuai dengan Syariat Islam adalah pinjaman yang diberikan oleh pihak Bank/ Lembaga Keuangan kepada Pihak Nasabah dengan sukarela, tanpa menyebabkan adanya kemanfaatan duniawi di baliknya, atau pihak Bank/ Lembaga Keuangan tidak mesyaratkan biaya lebih/ tambahan kepada Pihak Nasabah dari jumlah yang dihutangkannya. Sebab, jikalau Pihak Bank/ Lembaga Keuangan mensyaratkan manfaat atau tambahan, maka itu masuk dalam kategori riba yang diharamkan dalam Syariat Islam.

Kemudian, yang tidak kalah pentingnya, Pinjaman (al-Qardh) itu haruslah jelas kadarnya/ jumlahnya dan sifatnya, agar tidak terjadi silang pendapat di antara Pihak Bank/ Lembaga Keuangan dengan Pihak Nasabah ketika mengembalikan nantinya.

Pinjaman (al-Qardh)


Pasca Mendapatkan Pinjaman (al-Qardh), Kemudaian Membuat Rekening di Bank/ Lembaga Keuangan, Bagaimana Hukumnya?

Pada dasarnya, tidak masalah membuat Rekening di Bank/ Lembaga Keuangan. Asalkan, Bank/ Lembaga Keuangan itu tidak berhubungan dengan riba dan tidak berhubungan dengan akad-akad yang tidak sesuai Syariat Islam sama sekali.

Sedangkan jikalau Bank/ Lembaga Keuangan tadi berhubungan degan Riba atau menjalankan akad-akad yang tidak sesuai Syariah, maka tidak masalah kita membuat Rekening di Bank/ Lembaga Keuangan terkait. Sebab jikalau kita melakukannya, maka bisa jadi harta haram bercampur dengan harta kita. Kemudian, perbuatan yang kita lakukan, dengan membuat Rekening di Bank/ Lembaga Keuangan Konvensinal, yang berhubungan dengan Riba, kita juga masuk dalam jaring “saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”.

Allah SWT berfirman:
وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان
"Saling tolong-menolonglah dalam kebaikan, dan jangan saling tolong menolong dalam permusuhan." (Surat al-Maidah: 2)

Nabi Saw bersabda:
لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيم أفناه ، وعن علمه ما فعل ، وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه وعن جسمه فيما أبلاه
"Tidak akan tergelincir kedua kaki anak Adam pada Hari Kiamat  sampai ditanyakan mengenai umurnya untuk apa dihabiskannya, mengenai ilmunya untuk apa diamalkannya, mengenai hartanya darimana didapatkannya dan untuk apa diinfakkannya, dan mengenai tubuhnya untuk apa dikerahkannya." (Hr al-Turmudzi, dari Abu Barzah)


Keuntungan dari Proyek/ Usaha/ Pekerjaan yang Modalnya dari Pinjaman Bank Konvensional/ Lembaga Keuangan Konvesional, yang Mengharuskan Riba, Gimana Hukumnya Jikalau Di Infakkan Sebagiannya, atau Digunakan untuk Kegiatan Sosial?


Tidak ada keharusan sebenarnya untuk bersedekah/ berinfak dengan keuntungan yang kita dapatkan dari Proyek/ Usaha/ Pekerjaan yang Modalnya dari Pinjaman Bank Konvensional/ Lembaga Keuangan Konvesional, yang Mengharuskan Riba. Walaupun misalnya kita berinfak/ bersedekah/ beramal social, itu tetap tidak membuatnya menjadi halal atau boleh.

Metode atau Langkah seperti ini, adalah Metode untuk membebas diri dari Harta Haram yang masuk ke dalam harta seorang muslim, sedangkan ia tidak mengetahuinya, atau tidak mengetahui keharamannya sebelum menjalaninya, atau dahulu ia melakukannya kemudian bertaubat.

Sedangkan jikalau sudah paham seutuhnya, kemudian sengaja melakukanya, tetap saja hukumnya haram.

Ingat ya, sekali lagi ditegaskan bahwa Metode atau Langkah seperti ini, yaitu bersedekah/ berinfak dengan keuntungan yang kita dapatkan dari Proyek/ Usaha/ Pekerjaan yang Modalnya dari Pinjaman Bank Konvensional/ Lembaga Keuangan Konvesional, yang Mengharuskan Riba, adalah Metode untuk membebas diri dari Harta Haram yang masuk ke dalam harta seorang muslim, sedangkan ia tidak mengetahuinya, atau tidak mengetahui keharamannya sebelum menjalaninya, atau dahulu ia melakukannya kemudian bertaubat.


Kesimpulan


Jikalau kita membutuhkan Pinjaman untuk kepentingan Usaha, pendidikan anak, dan selainnya, maka ayunkanlah kaki kita dan tangan kita ke Bank Syariah atau Lembaga Keuangan Syariah, agar Syiar Ekonomi Islam ini tegak di muka bumi, agar harta kita juga bersih dari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT.[]
Read More »


Hukum Gaji dari Pekerjaan yang Didapatkan dengan Ijazah Palsu

Kasus Ijazah palsu pernah merebak beberapa masa yang lalu. Bukan saja menimpa kalangan arus bawah, namun juga para pejabat negeri. Tanpa dosa, mereka rela memalsukan Ijazah agar bisa mendapatkan jabatan yang tinggi, gaji yang mentereng, dan posisi yang terpandang. Halal dan haram, bukanlah sesuatu yang penting baginya.

Nah, pertanyaannya: Bagaimana hukum Gaji yang didapat dari pekerjaan dengan menggunakan Ijazah Palsu?


Jangan Gunakan Ijazah Palsu


Sahabat, janganlah Anda tergoda dengan Ijazah Palsu demi mendapatkan pekerjaan tertentu, yang menurut Anda baik dan memiliki gaji yang gede, kemudian juga fasilitas yang mentereng.

Jujur sajalah. Lakukanlah segalanya dengan benar. Jangan sampai ada dusta, penipuan, dan pemalsuan. Hal ini jelas terlarag dalam firman Allah SWT:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
“maka jauhilah olehmu dosa akibat menyembah berhala-berhala dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta.” (Surat al-Hajj: 30)

Dalam al-Shaihaian dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw menganggap persaksian palsu dan kata-kata yang dusta sebagai salah satu dosa besar. Dalam Shahih Ibn Hibban dijelaskan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
من غشنا فليس منا، والمكر والخداع في النار
“Siapa yang menipu kami, bukanlah dari kami. Makar dan penipuan berada di Neraka.”
Berdasarkan hal ini, maka memalsukan Ijazah/ Syahadah, hukumnya tidak boleh.

Gaji dari Pakerjaan dengan Ijazah Palsu


Gimana dengan Gaji yang Didapatkannya dari Pekerjaan Tadi? Dimana Ijazah Palsu Digunakannya Untuk Mendapatkan Pekerjaan itu?


Mengenai Gaji yang diambil oleh orang tadi, yaitu orang yang mendapatkan pekerjaan yang Ijazah Palsu, jikalau pekerjaan yang dilakukannya itu bersifat Mubah (boleh), dan hukumnya Mubah, kemudian ia menjalani tugasnya itu dengan sebaik-baiknya, maka upah/ gaji yang didapatkannya itu. Hukumnya Mubah (boleh). Sedangkan, jikalau pekerjaan yang dijalaninya itu haram, seperti mendesain website-website yang mengandung konten-konten haram atau pekerjaan sejenisnya yang membantu usaha kemaksiatan/ dosa, atau ia menjalankan pekerjaannya tidak sesuai dengan tuntutan seharusnya, maka Gajinya haram. Sebab, dalam hal ini ada upaya saling tolong menolong dalam dosa, permusuhan, penipuan, dan kedustaaan.


Jalan Keluar Terbaik


Ada beberapa langkah yag bisa Anda jadikan sebagai jalan keluar;
Pertama, Berusaha Mendapatkan Ijazah yang Benar
Ya, jangan sampai Anda larut dalam kedustaan Anda itu. Carilah Ijazah yang sebenarnya, bukan Ijazah palsu. Kalau bisa, Anda sampaikan kepada Boss Anda atau pimpinan Anda bahwa Ijazah yang Anda gunakan adalah Ijazah palsu, dan minta solusi terbaik bagi Anda. Jikalau Anda memang orang yang baik dan mampu bekerja dengan baik, maka Insya Allah pimpinan Anda akan mempertahankan Anda. Jikalau tidak, maka tunggulah takdir Anda. Siapa tahu pimpinan Anda memaafkan dan memberikan Anda kesempatan untuk menjadilebih baik.

Kedua, Carilah pekerjaan yang Tidak Membutuhkan Ijazah
Jikalau pimpinan Anda tidak menerima alasan yang Anda sampaikan, tidak menerima kejujuran yang sudah Anda utarakan, maka pilihlah jalan terbaik. Carilah pekerjaan lainnya yang tidak membutuhkan Ijazah, atau pekerjaan yang menuntut Ijazah yang sesuai dengan yang Anda miliki sebenarnya. Jangan takut. Allah SWT yang mengatur rezeki. Bertakwalah kepada Allah SWT, kemudian bersabar sampai ada jalan keluar terbaik.

Allah SWT berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang bertakwa kepada Allah SWT, maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak terduga." (Surat al-Thalaq: 2-3)

Rasulullah Saw bersabda:
إن روح القدس نفث في روعي أن نفساً لن تموت حتى تستكمل رزقها فاتقوا الله وأجملوا في الطلب، ولا يحملنكم استبطاء الرزق أن تطلبوه بمعاصي الله، فإن الله لا يدرك ما عنده إلا بطاعته
"Ruh Qudus meniupkan di jiwaku bahwa jiwa tidak akan meninggal sampai sempurna rezekinya. Maka, bertakwalah kepada Allah SWT dan memintalah dengan baik. Jangan sampai lambatnya rezeki membuatmu memintanya dengan bermaksiat kepada Allah SWT. Tidak akan didapati apa yang ada di sisi-Nya kecuali dengan menaati-Nya." (Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)


Penutup


Sahabat, marilah berjalan sesuai dengan ketentuan Syariah Islam. Hidup ini tidak lama. Kenikmatan yang didapatkan dari Ijazah Palsu hanya kenikmatan semu. Kenikmatan hakiki ada di akhirat kelak. []
Read More »


Menjadi Haji yang Berkontribusi Untuk Negeri

(Dimuat di KOlOM DETIK.COM Edisi Selasa, 12 September 2017)

Pelaksanaannya ibadah haji tahun 1438 H sudah selesai. Artinya, para jamaah haji asal Indonesia dan juga negara-negara lainnya sudah harus bersiap-siap meninggalkan Arab Saudi. Pada tanggal 6 September 2017 akan ada 5 kloter yang akan diterbangkan perdana ke tanah air, kemudian besok akan disusul oleh 6 kloter lainnya. Begitulah selanjutnya dan selanjutnya, sampai semua jamaah haji bisa kembali ke tanah air dan bersua karib kerabatnya.

Haji bukan sekadar Rukun Islam yang kelima. Ia bukan sekadar ibadah jasadiyah. Ada makna-makna tersirat di baliknya. Haji adalah ibadah yang berbiaya tinggi, sia-sia jikalau sampai tidak memberikan kontribusi. Makanya, Haji yang Mabrur itu bukan dilihat ketika pelaksanaan ibadahnya, walaupun ada pengaruhnya dalam keshahihannya, tapi dilihat dari efek yang lekat dalam diri orangnya setelah menunaikannya.

Dalam sejarah Indonesia, sebenarnya sudah termaktub jelas bahwa para Haji itu memiliki peranan besar dalam kemerdekaan, memiliki kontribusi agung dalam melahirkan generasi pejuang. Tidak heran, jikalau para Haji yang baru saja kembali dari Mekkah, menjadi momok menakutkan bagi para penjajah. Mereka bukan saja kembali membawa status kehormatan, namun juga ajaran militant anti penjajahan.


Dalam konteks kekinian, seharusnya para Haji memiliki kontribusi lebih. Tidak sekadar berpeci putih, kemudian hanya memikirkan diri sendiri. Apalagi hanya sekadar ditempelkan dalam kampanye politik demi meraup suara para pemilih. Itulah kenyataanya yang terjadi saat ini. Mereka hanya menjadi shaleh, menjadi baik bagi diri sendiri, namun tidak menjadi mushlih; memperbaiki kerusakan-kerusakan tatanan yang ada di sekitarnya. Bahkan ada yang lebih parah lagi, pasca pulang haji bukannya menjadi berubah, malah kejahatannya semakin merajalela dan keburukannya semakin tersebar kemana-mana.

Memahami makna haji dengan baik adalah pangkal kontribusi pasca menunaikannya. Menjadi Insan yang bertakwa adalah modal utamanya. Takwa inilah yang akan mendorong orang yang berkontribusi aktif dalam masyarakatnya, dan takwa inilah yang akan mencegah pelakunya berbuat kejahatan. Tidaklah seseorang penyandang status Haji melakukan tindak pidana korupsi, kecuali Takwa itu terlepas dari dirinya. Tidaklah seorang penyandang Haji menipu konstituennya, kecuali Takwa itu lenyap dari jiwanya. Takwa itu adalah ruh. Takwa itu adalah Mesin, yang menggerakkan jiwa insane untuk mencegah setiap perbuatan yang melanggar nilai-nilai Qurani.

Ketika Haji Kehilangan Nilai Hakiki


Menarik ucapan dari penyair terkenal asal Palestina, Murīd Barghūthī yang suatu kali mengatakan: “Apa yang kalian lempar dalam Ibadah Haji adalah Pemimpin Hakiki kalian di Negara kalian. Maka, sadarlah!”

Salah satu ibadah yang harus dikerjakan Jamaah Haji dalam prosesi haji adalah melempar jumrah. Itu bukan melempar setan, yang sama sekali tidak berdiri dan tidak berada disana. Melempar jumrah adalah syiar perlawanan terhadap sikap-sikap syaithani, yang tampak nyata dalam godaan Setan terhadap Nabi Ibrahim yang akan menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Ismail.

Inilah yang harus menjadi suatu paham bagi para Haji. Lempar Jumrah itu adalah simbolisasi dari perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan. Makanya, tidak heran jikalau Murīd Barghūthī mengatakan bahwa yang dilempar Jumrah itu adalah para pemimpin kalian di negeri kalian. Tidak semua memang. Tapi ada pejabat dan elit pemerintahan yang bersifat syaithani seperti itu, yang berusaha menanam dan menghunjam nilai-nilai keburukan dalam pemerintahannya demi mempertahankan kekuasaannya.

Para Haji yang Mabrur adalah Para Haji yang berkontribusi melawan dan membajak segala bentuk kezaliman, kemudian menanam nilai-nilai kebaikan dan kebajikan di tanah yang sudah digarap. Tidak harus dalam taraf Nasional apalagi internasional. Mulai saja dari tatanan yang paling kecil saja terlebih dahulu. Keluarga itu jelas. Bahkan seharusnya sebelum menunaikan ibadah haji, keluarga sudah paham dengan nilai-nilai kebajikan dan sudah harus menjadi pakaian keseharian mereka.

Di masyarakat, itulah yang selanjutnya harus digarap. Tidak ada salahnya jikalau Para Haji tadi berjuang dengan badannya, tenaganya, dan pikirannya di masyarakat. Kalau dengan harta, itu sudah jelas. Sebab, image Haji dalam pandangan masyarakat adalah image kalangan atas, kalangan berduit dan berjabatan hebat.

Sebaliknya, jangan malah menjadi haji yang rusak dan merusak, menyebarkan keburukan dan menghancurkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Haji semacam ini hanyalah hanya yang Maghrur, yang tertipu dengan statusnya, yang mau mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk berada di Makkah, agar kemudian bisa mendapatkan suara massa, kemudian menjadi petinggi Negara. Niatnya salah.

Jikalau tidak mampu berkontribusi lebih, maka paling tidak jangan jadi sosok perusak negeri. Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw tentang amalan yang paling baik. Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.” “Jikalau kami tidak mampu,” kata para sahabat. “Memerdekan budak yang paling mahal harganya.” “Jikalau tidak mampu?” kata sahabat lebih lanjut. “Mengajarkan ilmu agar orang menjadi ahli.” “Jikalau tidak mampu?” Beliau menegaskan: “Kalian menahan keburukan kalian dari orang lain, maka itu adalah sedekah kalian bagi diri kalian sendiri.” (Shahih al-Bukhari 2518, Shahih Muslim 84)

Artinya apa?

Artinya, jikalau tak mampu berbuat baik untuk negeri ini dengan jiwa, berbuat baiklah dengan harta. Jikalau tidak mampu juga, maka dengan ilmu. Jikalau tidak mampu juga, maka dengan tidak mengganggu jalannya kebenaran. Itu sudah cukup. Dan itu sudah menunjukkan haji yang berkontribusi untuk negeri. []
Read More »