Apakah Shalat Isyraq itu adalah Shalat Dhuha?

Banyak juga yang bertanya-tanya, Shalat Isyraq itu shalat sunnah jenis apa lagi? Apa bedanya dengan shalat Dhuha? Apakah harus I’tikaf dulu di Mesjid sebelum mengerjakannya?

Mari kita lihat masalah yang satu ini..

Anas bin Melik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
من صلى الغداة في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة، تامة تامة تامة
“Siapa yang mengerjakan shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berzikir mengingat Allah SWT sampai matahari terbit, kemudian ia mengerjakan shalat sebanyak dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.”(Hr al-Turmudzi dan dihasankannya)

Dijelaskan juga oleh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah dengan berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdullah, dan dishahihkannya bahwa Nabi Saw jikalau mengerjakan shalat Subuh, maka ia duduk di tempat duduknya sampai matahari terbit dengan baik.”

Al-Qadhi Iyadh mengatakan dalam Ikmal al-Muallim;
“Maksudnya adalah meninggi dan tampak terbitnya, sudah mungkin dan boleh mengerjakan shalat.”

Dua rakaat yang dikerjakan itu adalah dua rakaat shalat Dhuha, yang dinamakan juga dengan dua rakaat Shalar ISYRAQ. Al-Thiby mengatakan dalam Syarh al-Misykah;
“Maksudnya, kemudian beliau shalat sampai matahari meninggi sekadar ujung tombak sampai keluar dari waktu makruh mengerjakan shalat. Shalat ini dinamakan dengan shalat Isyraq, dan ia adalah shalat Dhuha di awal waktu.”


Kemudian al-Suyuthi juga menyebutkan hadits ini dalam al-Fatawa tentang keutamaan shalat Dhuha. Sebagaimana, al-Adwy al-Maliki juga menyebutkan dalam Hasyiyahnya terhadap Kitab Kiyafah al-Thalib:
“Kemudian beliau megerjakan shalat dua rakaat. Maksudnya, dua rakaat shalat Dhuha.”

Al-Lajnah al-Daimah li al-Buhuts wa al-Ifta, yang ketika itu dipimpin oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz ditanya:
“Dalam hadits dijelaskan bahwa Nabi Saw bersabda, ‘Siapa yang mengerjakan shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berzikir mengingat Allah SWT sampai matahari terbit, kemudian ia mengerjakan shalat sebanyak dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna’ Pertanyaanya, apakah dua rakaat ini adalah dua rakaat shalat Dhuha atau ia adalah ibadah sunnah yang berbeda dengan shalat Dhuha yang bisa dikerjakan 8 rakaat?”

Al-Lajnah menjawab:
“Dua rakaat yang disebutkan dalam hadits ini adalah SHalat Dhuha. Tapi, kedua rakaat itu memiliki keutamaan khusus karena berhubungan dengan duduknya orang tadi di tempat shalatnya setelah shalat subuh sampai naiknya matahari. Sebaik-baik waktu shalat Dhuha adalah ketika cuaca memanas, yaitu ketika waktu Dhuha berada di puncaknya.”

Dua rakaat shalat Dhuha ini tidak dinamakan dua rakaat SHalat Isyraq kwcuali jikalau dikerjakan di awal waktu shalat Dhuha, sebagaimana sudah dijelaskan oleh al-Thiby. Karena itulah, Syeikh al-Utsmanin menjelaskan:
“Intinya, Dua rakaat shalat Dhuha itu adalah Shalat Isyraq, tapi jikalau didahulukan di awal waktu, yaitu ketika naiknya matahari seujung tombak. Kedua rakaat ini dinamakan Isyraq dan Dhuha. Namun jikalau keduanya diakhirnya sampai akhir waktu, maka ia adalah shalat Dhuha, bukan Isyraq.” []

Kapan Dimulainya Waktu Shalat Dhuha & Kapan Berakhirnya?

Shalat Dhuha merupakan salah satu shalat sunnah yang besar pahalanya,dan agung fadhilahnya. Ia merupakan salah satu shalat sunnah yang sering dikampanyekan oleh salah satu Ustadz Kondang di Tanah Air, yaitu Ustadz Yusuf Manshur.

Masalahnya sekarang, ada sejumlah orang yang bertanya mengenai kappan dimulainya waktu Shalat Dhuha ini dan kapan berakhirnya?

Baiklah, kita akan sedikit membahas masalah yang satu ini. Shalat Dhuha itu sendiri dimulai ketika terbitnya Matahari dan mulai naik setinggi ujung tombak, kira-kira 15 menit setelah munculnya matahari, sampai ia berada di tengah langit, yaitu beberapa saat sebelum tergelincirnya matahari. Sebagian ulama menetapkan kadarnya kira-kira 10 menit sebelum masuknya waktu Zuhur.

Kapan Anda bisa melakukan shalat Dhuha itu?
Nah, dalam bentangan waktu yang sudah kita jelaskan di atas, Anda bisa mengerjakan shalat Sunnah yang mulia ini.


Jikalau Anda mengerjakan shalat Dhuha 10 menit atau 5 menit sebelum shalat Zhuhur, maka dikhawatirkan Anda mengerjakan shalat di waktu yang terlarang, sebagaimana sabda Rasulullah Sawl:
ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهنَّ أو أن نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس، وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب
“Tiga waktu yang Rasulullah Saw melarang kami mengerjakan shalat ketika itu atau menguburkan orang-orang yang meninggal di antara kami; ketika matahari terbit sampai naik; ketika berada di puncak langit sampai tergelincir; dan ketika matahari mau terbenam.” (Hr Muslim dan Ashab al-Sunan)

Jikalau Azan Shalat Zuhur sudah berkumandangan, maka tidak ada lagi yang namanya SHalat Dhuha. Anda mengerjakan Shalat Sunnah lainnya, yaitu Shalat Sunnah RAwatib sebelum Zuhur.

Nah, begitulah kira-kira catatan singkat kita kali ini.

Salam hormat dari Daerah Istimewa Jogjakarta []

Apa yang akan Terjadi Jikalau Semua Mesin Pesawat Mati Dalam Penerbangan?

Pernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi pada pesawat jikalau keempat mesinnya berhenti ketika sedang terbang? Inilah yang dijelaskankan oleh British Telegraph, di mana kasus serupa pernah terjadi pada 14 Februari 2018, yang menimpa untuk sebuah pesawat United Airlines setelah mesinnya meledak di udara.

Apa yang terjadi jika semua mesin pesawat berhenti saat terbang?

Patrick Smith, seorang Pilot dan Penulis, mengatakan dalam bukunya Cockpit Confidential bahwa mungkin kejadian ini mengejutkan bagi sebagian orang. Namun bagi para pilot, ini adalah sesuatu yang biasa, yang dikenal dengan nama Flight Idle. Ketika itu, mesin berada dalam kondisi nol-propulsi, dan ia tetap bekerja dengan sistem kritisnya. Tanpa dorong apapun. Ketinggian pesawat turun di udara beberapa kali tanpa disadari. Ini terjadi di hampir semua penerbangan.


Smith menjelaskan bahwa kondisi seperti ini tentunya lebih sulit daripada kondisi ketika kedua mesin berjalan, tapi tidak terlalu juga. Ini sama halnya dengan mobil  yang menuruni bebukitan dengan tekanan rem.

Berbeda pesawatnya berbeda pula rasionya. Dan itu artinya, tingkat turun dari ketinggiannya juga berbeda, yang dengan sendirinya akan mempengaruhi sejauh mana pesawat terbang ini dapat terbang tanpa dorongan mesin. Jikalau pesawat dibiarkan terbang dengan persentasi membelah udaranya 1: 10, maka itu artinya pesawat akan kehilangan satu mil (1,6 KM) ketingginnya di setiap 10 Mil (16 KM). Dalam penerbangan normal, dengan ketinggian 36.000 kaki (11 KM), pesawat yang menghentikan kedua mesinnya bisa terbang 70 Mil lagi (112 KM) sebelum mencapai tanah, kata Telegraph.


Smith menambahkan bahwa berhentinya mesin secara keseluruhan adalah sesuatu yang mungkin saja terjadi kapan pun itu. Salah satu penyebabnya adalah penipisan bahan bakar, abu vulkanik dan tabrakan dengan burung. Dalam banyak insiden ini, awak kapal terjatuh tanpa korban jiwa atau luka-luka.[]