Ustadz Abdus Shomad & Fikih Persatuan Umat

Ketenaran Ustadz Abdus Shomad di dunia maya dan di dunia nyata adalah fakta yang tidak mungkin dipungkiri saat ini. Kemampuannya yang mampu menyampaikan sesuatu yang rumit dengan gaya bahasa yang sederhana, disertai dengan humor yang mampu mengocok perut, menjadi nilai plus yang tidak dimiliki semua orang. Ia mampu memaparkan perbedaan para ulama lengkap dengan dalil-dalilnya secara gamblang, yang membuka mata anak negeri yang selama ini terlalu kaku dalam berfikih. Banyak orang yang paham dengan khilaf para ulama, namun jarang yang mampu menyajikannya dalam bahasa yang sederhana, bahasa membumi. Banyak ustadz yang lulusan Timur Tengah, namun yang memiliki kemampuan tabligh layakya Ustadz Abdus Shomad, jarang didapati. Kemampuan Literasi Fikih Islamnya mumpuni, dan kemampuan penyampaiannya dan komunikasinya kuat.

Ustadz Abdus Shomad hadir di tengah kebingungan umat mengenai masalah-masalah khilafiyah fiqhiyyah yang membuncah. Masalah-masalah yang dahulu sempat padam di selimut masa, kembali mencuat beberapa tahun belakangan, seperti masalah Qunut Subuh itu bidah atau tidak? Peringatan Maulid Nabi itu bidah atau tidak? Tatacara shalat yang benar itu bagaimana? Niat itu dilafalkan atau tidak?

Pertarungan Mazhab kembali hadir di tengah umat dengan bentuknya yang baru. Kelompok yang mengklaim diri Anti Mazhab, sebenarnya sedang membuat Mazhab tersendiri yang berbeda dari Mazhab yang dianut olah mayoritas umat Islam Indonesia. Kondisi seperti ini sama saja membalikkan lagi kondisi abad pertangahan sejarah Islam, dimana ketika itu antara satu Mazhab dengan Mazhab lainnya saling bertikal dan saling menyesatkan.


Dahulu, jikalau ada Ulama atau Pengikut suatu Mazhab memiliki anak perempuan, kemudian ada laki-laki yang ingin melamar anak perempuannya, maka ditanya dulu Mazhabnya apa? Jikalau Bapaknya ini Mazhabnya Hanafi, kemudian sang pelamar Mazhabnya Syafii, maka sudah bisa dipastikan tertolak.

Abu Ismail al-Anshary al-Harawy yang bermazhab Hanbali, suatu kali mendendangkan suatu syair yang menunjukkan bagaimana dirinya benar-benar cinta dengan Mazhabnya (Siyar A’lam al-Nubala’ 18/506):
“Saya adalah Hanbali, selama saya hidup sampai saya mati. Saya berwasiat kepada semua orang untuk bermazhab Hanbali.”

Kemudian pengikut Mazhab Syafii juga tidak mau kalah. Ada syair dari salah seorang pengikutnya yang berkata begini, yang dikutip oleh Tajuddin al-Subki (al-Ibhaj fi Syarh al-Minhaj 3/206):
“Kami menyatakan bahwa wajib bagi semua kaum muslimin dan semua kaum mukminin, baik di Timur, Barat, Jauh dan Dekat, untuk mengikuti Mazhab Syafii.”

Pengikut Mazhab Hanafi tidak jauh beda. Salah seorang pengikutnya mengatakan (Ushul al-Khirky: 169-171):
“Semua Nash yang bertentangan dengan Mazhab (Hanafi), maka Mansukh (dihapus) atau Muawwal (ditakwil).”

Begitulah yang terjadi ketika itu. Antara satu dengan yang lainnya saling menjatuhkan, salin menyalahkan, bahkan sampai saling mengkafirkan. Semua mengklaim paling benar. Padahal semua Mazhab itu juga mengambil pengajaran mereka dari al-Quran dan Hadits. Hanya saja, mereka memiliki pandangan yang berbeda dalam memahami makna yang terkandung dari kedua sumber utama itu. Atau, bisa jadi dalil yang mereka gunakan berbeda. Misalnya, Mazhab Syafii menggunakan dalil ini, namun Mazhab Hanafi menggunakan dalil lainnya.

Para Imam Mazhab itu antara satu dengan yang lainnya adalah saling berguru-bermurid. Jikalau kita lihat dalam silsilah keilmuanya; Imam Muslim berguru kepada Imam Bukhari, kemudian Imam Bukhari berguru kepada Imam Ahmad, kemudian Imam Ahmad berguru kepada Imam Syafii, kemudian Imam Syafii, berguru kepada Imam Malik, kemudian Imam Malik berguru kepada Imam Nafi’, kemudian Imam Nafi’ berguru kepada Imam al-A’raf, kemudian Imam al-A’raj berguru kepada Abu Hurairah, kemudian Abu Hurairah berguru lansung kepada Rasulullah Saw.

Keilmuan mereka itu bersambung. Dan tidak ada ceritanya Imam Ahmad menyatakan Imam Syafii itu ahli bidah atau sesat. Tidak ada ceritanya Imam Ahmad menyatakan Imam Bukhari itu melenceng dari syariah. Sebab, Imam Bukhari ini adalah pengikut Mazhab Syafii yang berQunut. Sedangkan Imam Ahmad yag gurunya berpandangan tidak ada Qunut dalam shalat Subuh.

Kaedah Utama Dalam Perbedaan Fikih

Dalam perbedaan para Ulama seputar masalah fikih, ada salah satu kaedah dari sekian banyak kaedah yang harus dipahami dengan baik oleh siapapun yang belajar atau ikut mengaji fikih. Sebab, fikih itu adalah pandangan, dan pandangan sudah pasti berbeda. Beda kepala, beda cara pikirnya. Dan kata ulama, orang yang tidak paham perbedaan pendapat di kalangan para ulama, maka ia belum mencium bau fikih. Jangankan fikihnya, baunya saja belum tercium.

Kaedah yang dimaksud dalam hal ini adalah Lâ Inkâra fî Masâil al-Ijtihâd allatî Yakhtalif fîhâ al-Ulâmâ’ (tidak ada pengingkaran dalam masalah Ijtihad yang para ulama berbeda pendapat dalam menyikapinya)

Berbicara masalah fikih; pandangan terhadap hukum syariah, maka bicaranya bukan masalah BENAR atau SALAH, tapi masalah satu pahala dan dua pahala. Sebab, ruang fikih adalah ruang Ijtihad. Jikalau ulama yang berijtihad benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Namun jikalau ia salah, maka ia mendapatkan satu pahala.

Makanya, tidak ada pengingkaran dalam masalah seperti ini. Sebab, berbeda pendapat dalam fikih bukanlah kemungkaran. Lapang dada menerima perbedaan adalah jalan keluarnya. Jikalau mau, silahkan adakan forum diskusi, dimana satu pihak saling adu dalil dan adu pandangan dengan pihak lainnya. Namun ingat dengan baik, hal itu dilakukan tanpa celaan dan tanpa main tangan. Sebab, sekali lagi, perbedaan dalam fikih bukanlah kemungkaran. Kedudukannya setara. []
Read More »


Para Santri dan Benteng NKRI

Cinta tanah air, bagi seorang santri adalah ruh, yang mendorongnya untuk berjuang membela tanah air dari segala bentuk ronrongan yang berusaha menghancurkan. Santri baca kitab, itu sudah biasa. Santri tidur makan seadanya, itu sudah lumrah. Namun santri angkat senjata bela Negara, itu sudah seharusnya. Dan zaman kemerdekaan sudah membuktikannya. Sejarah menjadi saksinya. Kelembutan para santri yang merupakan implementasi dari belajar adab ilmu dari para guru dan sepuh, tidak akan membuat mereka melempem di hadapan para “licikers” pengkhianat, yang ingin menjual Negara kepada pihak penjajah, atau di hadapan para penjajah itu sendiri.

Dalam konteks sekarang, dalam konteks ke-Indonesiaan, bela tanah air itu bukan lagi dengan angkat senjata melawan penjajah, bukan lagi dengan bambu runcing mengusir para kompeni, tapi dengan jari-jemari, dengan pena dan tinta, melawan para pengusung propaganda yang ingin menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ideologi-ideologi yang bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945.

Paham ISIS dan paham komunis hanyalah satu dari sekian banyak ideologi yang mungkin masuk menyusup ke dalam logika setiap anak negeri. Namanya paham tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. Sebab, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Paham itu letaknya di akal. Maka, cara menghadapi paham adalah dengan paham lainnya yang mengcounter paham “sesat” tersebut.

Jikalau propagandanya dengan  tulisan, maka tulislah bantahannya. Jikalau propagandanya dengan video, maka balaslah dengan video. Caci-maki dan cela-mencela hanyalah senjata orang yang sudah kalap dan kalah, yang tidak mampu menghadapi lagi logika dengan logika, sehingga keluarlah segala sumpah serapah. Apalagi sampai menumpahkan darah, hanya akan menjadi luka sejarah, yang kemudian dendam khusumatnya akan diwariskan dari generasi ke generasi.


Seringkali, pangkal masalah dari santri yang ingin berkontribusi adalah paham yang tidak mumpuni. Ingin bela Negara, namun tidak paham dengan masalah kenegaraan. Pancasila saja tidak hafal, apalagi makna-maknanya. Gimana mau menghayatinya? Tapi jikalau hanya sampai kata “tidak hafal”, itu tidak terlalu bermasalah. Sebab, masih ada kesempatan menghafalnya, dan itu mudah. Namun, jikalau jiwa bela Negara sudah tiada dari seorang santri, itu baru musibah namanya.

Santri dan Cinta Negara

Hubb al-Wathan min al-Iman, cinta tanah air bagian dari Iman, adalah syiar yang seringkali menjagi titik tolak perjuangan santri. Walaupun kata-kata ini banyak yang mempermasalahkannya sebagai sebuah hadits, namun maknanya jelas benar. Para ulama banyak yang sudah menjelaskan bahwa cinta tanah itu bukan sekadar kata yang didendangkan merdu, dijadikan status media social, atau dijadikan klaim semata.

Cinta tanah air itu  membutuhkan keikhlasan. Tidak ada keinginan mengharapkan balasan materi dan moril, tidak ada hasrat ingin mendapat gaji dan puji. Semua memang dilakukan ikhlas karena bagian dari ajaran agama.  Cinta tanah air itu membutuhkan pengorbanan. Tidak mampu berkorban dengan jiwa untuk Negara, maka berkorbanlah dengan harta. Bayarkan pajak dan kewajiban lainnya yang memang harus dibayarkan. Jikalau tidak mampu, maka dengan lisan.

Jikalau tidak mampu juga, maka dengan hati. Jikalau tidak mampu juga berkorban dengan hati, maka tahanlah keburukan diri dari kehancuran negeri. Itu pengorbanan paling minimal. Perlu diingat dengan baik, setiap afilasi membutuhkan kontribusi. Mengaku sebagai anak negeri, maka apa yang sudah dipersembahkan untuk Negara dan bangsa? Jangan-jangan, hanya klaim semata, hanya berharap puja.

DR. Zaky Utsman, seorang Guru Besar al-Tsaqafah al-Islamiyah di Universitas al-Azhar menjelaskan bahwa berafiliasi dengan Negeri bukan sekadar syiar atau kata-kata yang terhenti di bibir. Namun, ia adalah cinta, ikhlas, dan pengorbanan. Dengan semakin bernilainya sebuah negeri, maka rakyatnya akan semakin berharga; dengan semakin baiknya negara, maka manusia akan semakin bahagia.

DR. Muhammad al-Dasuqy, Guru Besar Syariah Islam di Cairo University bahwa Islam menempatkan cinta tanah air dan berafilasi dengannya sebagai bagian dari akidah, kemudian menempatkan bela negara sebagai kewajiban suci.

Terakhir, mengutip ucapan sebagai sastrawan dan pemikir Timur Tengah, Muhammad Darwis, yang suatu kali menjelaskan makna Tanah air (al-Wathn), ia mengatakan:
Al-Wathn Laisa Su-al Tujib anhu wa Tamdhi  (Tanah air, bukanlah sekadar pertanyaan yang Anda jawab, kemudian Anda pergi berlalu begitu saja)
Innahu Hayatuka wa Qadhiyatuka Ma’an (Ia adalah hidup Anda dan sekaligus masalah Anda)

Jikalau rasa peduli terhadap negeri sudah mati, maka itu berarti rakyatnya pun mati, baik dari kalangan santri maupun abangan. Semuanya sama. Semuanya harus cinta tanah air. []
Read More »


Polarisasi TNI-POLRI Ancam NKRI

5.932 amunisi dalam 71 koli dan jenis senjata lain yang dibeli Polri dari luar negeri, diamankan dan disimpan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kecanggihannya senjatanya tidak main. Bahkan, TNI sendiri mengaku tidak memiliki senjata seperti itu. Berdasarkan penjelasan dari Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal Wuryanto kepada media, amunisi tajam yang dibeli Polri mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter. Kemudian, saat ditembakkan, amunisi tersebut akan dua kali meledak. Ledakan kedua akan melontarkan pecahan tubuh granat berupa logam kecil yang melukai dan mematikan sasaran tembak. Selain itu, jenis granat yang dibeli Polri juga bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras.

Jikalau masalah pembelian senjata ini tidak segera diselesaikan dengan baik, dan tidak didudukkan bersama-sama, maka polarisasi antara TNI-Polri akan semakin kuat dan dikhawatirkan akan menjadi bola salju yang akan terus menggelinding dan menggelinding, kemudian semakin besar dan besar. Gesekan-gesekan yang selama ini ada di antara TNI-Polri bukan rahasia lagi. Apalagi, tahun ini sudah mulai masuk tahun politik menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2019. Akan ada yang bermain dengan issu-issu seperti ini. Tujuannya apalagi selain mendapatkan suara massa, tanpa mempedulikan rusaknya kesatuan bangsa. Saling bentur-membenturkan bukan hal baru dalam kamus hitam dunia politik.

Kembali ke Fungsi & Tugas Masing-Masing

Baik TNI maupun Polri harus memperhatikan tugas masing-masing dengan baik. Jangan sampai TNI menjalankan fungsi dan tugas TNI, sebagaimana TNI jangan pula menjalankan fungsi dan tugas Polri. Jikalau masing-masing sudah berjalan di relnya masing-masing, maka dijamin tidak akan terjadi gesekan lagi.


Fungsi dan tugas keduanya sebenarnya sudah diatur dengan jelas dalam ketetapan MPR No. VI/MPR/2000 dan No. VII/MPR/2000 tentang peranan TNI dan Polri.

TNI adalah alat Negara yang dalam bidang pertahanan. Fungsinya adalah untuk Penangkal terhadap ancaman bagi kedaulatan, keutuhan, serta keselamatan bangsa Indonesia baik itu dalam bentuk ancaman militer maupun ancaman bersenjata yang berasal dari dalam dan luar negri. kemudian sebagai penindak lanjut terkait ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan, keutuhan, serta keselamatan bangsa Indonesia baik dalam bentuk ancaman militer maupun bersenjata yang berasal dari dalam atau luar negri. Kemudian juga sebagai pemulih kondisi keamanan negara Republik Indonesia yang terganggu akibat adanya kekacauan yang mengganggu keamanan.

Tugas TNI terbagi dua, yaitu operasi militer untuk perang, dan perasi militer selain perang. Untuk tugas yang kedua ini, bentuknya bermacam-macam, seperti mengatasi gerakan separatis bersenjata, pemberontakan bersenjata, serta aksi terorisme; mengamankan wilayah-wilayah perbatasan serta object vital nasional yang strategis; melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai denag kebijakan politik luar negri; mengamankan presiden, wakil presiden dan keluarganya; memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya sesuai dengan sistem pertahanan semesta; membantu tugas pemerintah daerah; membantu tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas keamanan serta ketertiban di masyarakat sesuai dengan Undang-undang; membantu dalam kegiatan pengamanan tamu negara yang setingkat kepala negara dan wakil pemerintahan asing yang sedang berada di Indonesia; membantu penanggulangan bencana alam, pengungsian, serta pemberian bantuan kemanusiaan; membantu pencarian serta pertolongan dalam kecelakaan; membantu dalam mengamankan kegiatan pelayaran dan penerbangan dari tindak kejahatan seperti pembajakan, penyelundupan, serta perampokan.

Sedangkan Polri, fungsinya adalah menyelenggarakan keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum yang berlaku,kemudian memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan terhadap masyarakat. Kemudian, tugas utama Polri itu adalah menjaga keamanan dalam negeri, yang dalam hal ini terbagi dua, yaitu tugas represif, yaitu melaksanakan segala peraturan maupun perintah dari pihak yang berkuasa pada saat terjadi peristiwa pelanggaran hukum. Kemudian tugas preventif, yaitu menjaga serta mengawasi agar tidak terjadi pelanggaran hukum oleh siapapun.

Dalam Undang-Undang No. 2 tahun 2002 pasal 13 dijelaskan bahwa polri memiliki tugas antara lain memelihara kamtibmas; penegakan hukum yang berlaku; kemudian memberikan pengayoman, perlindungan, serta pelayanan bagi masyarakat. Kemudian dalam Undang-Undang No. 2 tahun 2002 pasal 14 dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam menjalankan tugas pokoknya yaitu menjaga keamanan dalam negeri, Polri memiliki beberapa tugas, di antaranya melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, serta patroli terkait kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan; menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan; membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi ., kesadaran hukum, serta ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan; ikut serta dalam pembinaan hukum nasional; memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum; melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa; melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya; menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian; melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia; melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang; memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian; serta melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Maka, jalankan tugas masing-masing, polarisasi akan hilang dengan sendirinya. Dan paling penting, jauhi politik praktis sebagaimana termaktub dalam undang-undang. Harus Netral.[]
Read More »


Antara Monogami & Poligami, Mana yang Lebih Baik Dalam Islam?

Masalah poligami memang tidak ada habisnya. Masalahnya menarik untuk dibahas lagi dan lagi. Hubungan yang erat dengan perasaan dan cinta, membuatnya menyentuh rasa dan logika setiap anak manusia. Maka, mengutip kata K.H. Cholil Navis (salah seorang petinggi MUI), laki-laki yang menolak poligami itu karena tidak mampu, dan perempuan yang menolak poligami karena cemburu. Tidak mutlak begitu memang. Karena ada juga yang mendukung atau menolaknya karena idealism yang mengakar, bukan sekadar rasa. Entah apapun alasannya, poligami tetap menjadi topic yang tidak lekang di makan zaman. Apalagi jikalau yang melakukannya adalah para tokoh dan para pesohor, terutama pada agamawan atau ulama, gaungnya akan besar sekali. Issunya akan dibicarakan mulai dari media televise, media cetak, media online, sampai media mamang sayuran ala emak-emak.

Sekarang, gaungnya kembali menggema keras, setelah salah seorang Dai Nasional, Ustadz Muhammad Arifin Ilham, menikah lagi untuk ketiga kalinya. Istrinya yang terakhir adalah seorang Janda berusia 37 tahun dengan dua anak. Jikalau istri pertamanya berdarah aceh, istri keduanya berdarah Yaman, maka istrinya yang ketiga ini berdarah Sunda. Tak pelak, silang pendapat di kalangan Netizen pun bermunculan; ada yang mendukung, dan tidak sedikit juga yang menyerang.

Penulis pun tertarik untuk melihat lebih dalam, dalam Islam itu sendiri; manakah yang lebih baik menikah dengan satu wanita saja alias Monogami atau menikah lebih dari satu istri (poligami), yang batas maksimalnya dalam Islam adalah empat istri?


Jumhur ulama berpandangan bahwa nikah itu, pada dasarnya adalah mencukupkan diri dengan satu istri saja. Inilah hukum asalnya.
Abu al-Husain al-Imrani menjelaskan:
"Imam al-Syafii mengatakan: 'Saya suka mencukupkan diri dengan satu istri saja. Walaupun saya membolehkan lebih dari itu. Ini berdasarkan firman Allah SWT: Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. ( Surat an-Nisa’: 3)'
Kemudian Ibn Daud membantah Imam al-Syafii, dengan mengatakan:
'Kenapa Anda mengatakan bahwa mencukupkan dengan satu istri lebih baik? Bukankah Nabi Saw memiliki banyak istri. Beliau itu tidak melakukan apapun kecuali yang terbaik. Beliau mengatakan: 'Menikah, maka jumlah kalian akan banyak'?'
Imam al-Syafii menjawab:
'Selain Nabi Saw lebih baik baginya untuk mencukupkan diri dengan satu istri saja, khawatir jikalau ia tidak mampu adil. Sedangkan Nabi Saw, beliau bisa dipercayai keadilannya. Sedangkan mengenai hadits yang Anda bacakan tadi, maka itu adalah dorongan untuk menikah, bukan dorongan untuk poligami." (Kitab al-Bayan fi Mazhab al-Imam al-Syafii, 11/189)

Al-Mardawi al-Hanbali mengatakan:
"Disunnahkan juga untuk menikah tidak lebih dari satu istri, jikalau dengan satu istri itu mampu menjaga kesucian diri. Itulah pendapat yang paling Shahih dalam Mazhab Hanbali. Ibn Khatib al-Salamiyyah menjelaskan bahwa mayoritas pengikut Mazhab Imam al-Syafii berpandangan disunnahkannya untuk menikah tidak lebih dari satu istri." (Kitab al-Inshaf: 8/16)

Kemudian al-Hijawi mengatakan:
"Disunnahkan untuk tidak lebih dari seorang istri, jikalau dengan satu istri itu mampu menjaga kesucian diri. Sebab, jikalau ia poligami, dikhawatirkan justru akan melakukan perbuatan haram, yaitu kezaliman kepad pihak istri." (Kitab Kassyaf al-Qanna': 11/148)

Kemudian Jamal al-Din al-Raymu menjelaskan:
"Menurut pandangan Imam al-Syafii dan Mayoritas Ulama bahwa seorang laki-laki merdeka bisa menikahi empat istri, dan tidak boleh lebih dari itu. Namun disunnahkan untuk tidak lebih dari satu istri, apalagi di zama kita ini." (Kitab al-Maani al-Badiah fi Makrifat Ahl al-Syariah: 2/195)

Jadi, mencukupkan diri dengan satu istri itu adalah sunnah. Dan poligami itu adalah Mubah (boleh-boleh saja). Jikalau ada yang mengatakan bahwa poligami itu adalah sunnah, maka itu sunnah dalam term nya para ahli hadits, yaitu sesuatu yang dikerjakannya, bukan dalam term ahli fikih yang bermakna jikalau dikerjakan dapat pahala, jikalau ditinggalkan tidak apa-apa.

Kalau pun ada yang mau poligami, silahkan saja jikalau ada kemampuan diri. Namun, perhatikan syarat-syaratnya dengan baik. Jangan sampai gara-gara ingin mengikuti sunnah Nabi, malah berbuah dosa.

Syarat-syaratnya adalah:
Pertama, al-Qudrah (kemampuan)
Pastikan dulu ada kemampuan untuk melakukan poligami; kemampuan materi dan kemampuan jasmani.
Kedua, Al-‘Adl (adil)
Jikalau ingin berpoligami, pantaskan diri terlebih dahulu agar adil berbagi; bagian hari dan bagian materi. Adil bukan berarti sama. Adil sesuai dengan kebutuhan. Disinilah letaknya kebijaksaan. Itulah adil yang diminta dalam poligami. Kalau masalah cinta, itu tidak bisa. Mustahil. Sebab, Nabi juga tidak bisa bersikap adil dalam hal cinta terhadap para istrinya. Khadijah dan Aisyah tetaplah yang paling tinggi tempat ditahtanya di istana hati sang baginda. Adil yang disebutkan dalam ayat poligami adalah adil pembagian hari dan materi, bukan cinta.
Ketiga, Batasanya Hanya Empat
Jikalau pasangan yang sudah dimiliki sudah berjumlah empat, jangan berharap menambah lagi. Itu sudah batasan maksimalnya. Jangan pula berdalil bahwa Nabi punya sebelas istri, sebab itu kekhususan bagi beliau yang tidak dimiliki umatnya
Keempat, Tidak ada Syarat “Tidak Boleh Poligami” dalam Akad Nikah
 Jikalau dalam akad nikah, perempuan mensyaratkan kepada suaminya tidak akan dimadu, kemudian laki-laki yang akan menjadi suaminya itu setuju, maka itu adalah syarat sah. Artinya, jikalau sampai suaminya menikah lagi, padahal dalam kondisi masih bersamanya, maka si istri bisa meminta pisah.

Nah, berpikir panjanglah dahulu sebelum poligami. []
Read More »


Makna Hijrah dalam Konteks Kebangsaan

Pintu gerbang Tahun Hijriyyah 1439 H sudah dimasuki. Berbagai harapan untuk kemajuan masa depan bangsa sudah dipanjatkan dan dihaturkan kepada Rabb sekalian alam. Kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu, biarlah menjadi sejarah dan melangkah ke depan untuk tidak mengulaginya lagi.

Usia Indonesia sebagai Bangsa dan Negara sudah memasuki usia 72 tahun dalam hitungan masehi. Dan sudah memasuki usia 73 tahun dalam hitungan Hijriyyah. Usia yang sudah tidak muda lagi. Namun, tingkah dan polah sebagai Negara, masih beda tipis dengan anak-anak yang masih berusia di bawah lima tahun (balita). Ini terlihat dari sikap salim klaim dan saling hina-merendahkan di antara anak bangsa. Mereka saling sibuk mengklaim paling pancasila dan paling Indonesia. Padahal, Indonesia sebuah ibu pertiwi juga sudah paham bahwa seluruh yang ber-KTP Indonesia adalah anak-anaknya, semua yang mencintai Indonesia adalah zuriyatnya.

Maka, dalam moment Tahun Baru Hiriyyah ini, seharusnya bisa dipahami dengan baik makna-makna terdalam yang ada di baliknya, terutama dalam konteks kebangsaan. Hijrah dalam artian umum, maknanya adalah al-Intiqal; berpindah. Berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainya demi kehidupan lebih baik, namanya hijrah. Berpindah dari akhlah yang buruk ke akhlak yang baik, namanya juga hijrah. Esensi hijrah adalah bergerak demi kebaikan, baik duniawi maupun ukhrawi.


Ada 6 makna paling tidak, yang bisa ditangkap dari Hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Medinah.

Pertama, al-Tadhiyyah (pengorbanan)
Ketika Nabi Saw memutuskan berhijrah meninggalkan Makkah, maka itu adalah salah satu pengorbanan paling besar yang dilakukannya sebagai manusia. Beliau harus meninggalkan negeri yang dicintainya, negeri yang menjadi tempat lahir dan tumbuhnya. Dalam konteks kebangsaan, pengorbanan ini adalah pengorbanan untuk melangkah maju ke depan meninggalkan ego pribadi dan ego kelompok demi persatuan bangsa. Jikalau ego diri masih saja di kedepankan dari kepentingan bersama, maka kapan Indonesia ini akan maju? Justru akan semakin tercabik-cabik.

Kedua, Tidak Untuk Putus Asa
Besar cobaan yang harus dihadapi oleh Nabi Saw di Makkah; disiksa, dihina, dicaci, dan diusir. Tapi beliau tetap sabar dan konsisten menjalankan dakwahnya, sampai Allah SWT menunjukkan jalan terbaik baginya. Dalam konteks ke-Indonesian juga begitu, walaupun masalah-masalah begitu banyak menggerogoti negeri ini, mulai dari korupsi, etika pendidikan, ekonomi morat-marit, hutang bertumpuk, dan selainnya, Anak Bangsa tetap harus optimis menatap masa depan yang lebih baik. Di balik semua kesusahan ini pasti aka nada nantinya jalan keluar dan kebahagiaan. Asal tetap usaha, hasil tidak akan pernah dusta. Jangan putus asa.

Ketiga, Sahabat yang Baik
Abu Bakar adalah sahabat terbaik Nabi Saw, terutama dalam hijrah. Ia rela mengorbankan dirinya demi perjuangan Nabi Saw menegakkan syiar Islam. Begitu juga dengan harta dan waktunya. Dalam konteks ke-Indonesiaan bisa diambil pelajaran bahwa bangsa ini seharusnya mencari Negara yang benar-benar mau berjuang bersama, bersahabat dalam arti yang sebenarnya. Jangan bersahabat dengan Negara-negara yang tujuannya hanya ingin menggerogoti kekayaan Indonesia. Jangan bersahabat dengan Negara-negara yang memberikan bantuan namun hakikatnya hutang, kemudian ditambah bunga mencekik.

Keempat, Memiliki perencanaan yang baik
Dalam hijrahnya, Nabi Saw melakukan segalanya dengan perencanaan yang baik. Beliau sudah menentukan siapa yang akan melakukan ini dan ini, apa yang akan dilakukan ketika ini dan ini. Semuanya berjalan dengan baik, dan hijrahpun berlansung sesuai dengan yag diharapkan. Dalam konteks keIndonesiaan, juga harus begitu. Kemajuan bangsa sulit dicapai jikalau tidak terprogram dengan baik. Jikalau program sudah baik, maka anasir-anasir yang menjalankanya juga harus sesuai dengan bidangnya. Jangan menyerahkan urusan bukan kepada ahlinya. Jikalau tidak, kehancuran akan menjadi efek buruknya.

Kelima, Konsisten dan Mencari Solusi yang Konfrehensif
Ketika Nabi Saw mendakwahkan Islam di Mekkah, beliau digoda dengan segala kesenangan dunia agar mau meninggalkan dakwahnya dan tidak mengganggu peribadahan kaum musyrikin; wanita yang cantik, harta berlimpah, dan jabatan yang mentereng. Namun, semua itu ditolak Nabi Saw. Sebab, tujuannya jelas yaitu Islam. Dalam konteks kebangsaan juga harus begitu, anak-anak bangsa jangan mau digoda dengan segala kenikmatan dunia agar mau merusak di negerinya. Jangan mau mengujar kebencian, walaupun dibayar mahal, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Persatuan dan kesatuan bangsa jauh lebih berharga dari materi semata.

Keenam, Menyerahkan urusan kepada Allah SWT Semata
Jikalau semua sudah dilakukan dengan maksimal, usaha sudah dijalankan dengan semua upaya, maka serahkanlah masalah hasilnya kepada Rabb yang Maha Esa. Dialah yang akan menentukan hasilnya. Itulah yang dinamakan Tawakkal (double “K”). Jikalau hanya menyerahkan tanpa usaha yang maksimal, itu namanya Tawakal (satu “K”).

Itulah 6 makna, paling tidak, yang bisa bisa ditangkap dari peristiwa Hijrahnya Nabi Saw dari Makkah menuju Madinah, yang di masa kepemimpinan Umar bin al-Khattab ditetapkan sebagai awal perhitungan tahun Hijriyyah, dalam konteks kebangsaan. Tidak ada harapan terbaik bagi bangsa ini, kecuali harapan agar Indonesia semakin hari semakin maju, terlepas dari jerat-jerat para anak bangsa yang syahwat memperkaya dirinya lebih besar dari rasa cintanya kepada bangsanya sendiri. []
Read More »